SURABAYA, PustakaJC.co - Kabar duka itu datang di waktu yang sunyi, namun mengguncang banyak hati. Nurwiyatno, sosok yang dikenal hangat, terbuka, dan bersahaja, berpulang pada Jumat, 17 April 2026 dini hari. Kepergiannya terasa begitu mendadak, terlebih karena sehari sebelumnya ia masih beraktivitas seperti biasa di kantor PMI Jawa Timur—menyapa, berdiskusi, bahkan bercanda dengan rekan-rekannya seperti tak ada tanda akan berpisah.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, almarhum meninggal dunia sekitar pukul 02.00 WIB setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Kabar ini sontak mengejutkan banyak pihak, mulai dari kalangan birokrasi, relawan kemanusiaan, hingga masyarakat luas yang mengenalnya sebagai figur bersahaja dengan dedikasi tinggi.
Bagi mereka yang pernah berinteraksi langsung, Nurwiyatno bukanlah sosok pejabat yang menjaga jarak. Ia dikenal dengan kebiasaannya membuka pintu ruang kerja—secara harfiah dan maknawi. Siapa pun bisa masuk, berdiskusi, atau sekadar berbincang ringan. Di situlah letak kekuatan utamanya: menghadirkan suasana kerja yang hangat di tengah struktur formal pemerintahan.
Karier panjangnya sebagai aparatur sipil negara dimulai sejak 1983. Selama puluhan tahun, ia mengabdikan diri di berbagai lini strategis, terutama di bidang pengawasan dan keuangan daerah. Mulai dari inspektorat, biro keuangan, hingga dipercaya menjabat Kepala BPKAD dan Inspektur, semuanya dilalui dengan konsistensi yang jarang goyah.
Puncak kepercayaan publik terhadap dirinya terlihat saat ia ditunjuk menjadi Penjabat Wali Kota Surabaya pada 2015 hingga 2016. Dalam masa transisi kepemimpinan yang tidak sederhana, ia mampu menjaga stabilitas pemerintahan sekaligus memastikan pelayanan publik tetap berjalan optimal.
Namun, bagi banyak orang, jabatan bukanlah hal utama yang melekat pada diri Nurwiyatno. Ia lebih dikenang sebagai “Cak Nur”—sapaan akrab yang mencerminkan kedekatan dan karakter khas arek Suroboyo yang egaliter, terbuka, dan penuh kehangatan.
Kisah hidupnya bahkan pernah diabadikan dalam buku biografi berjudul “Cak Nur, Arek Suroboyo” yang disusun oleh tim PustakaJC. Buku tersebut bukan sekadar rangkaian prestasi, melainkan potret perjalanan hidup yang utuh—dari masa muda, proses jatuh bangun, hingga nilai-nilai yang ia pegang dalam menjalani pengabdian.
Proses penyusunan buku itu sendiri menjadi cerita tersendiri yang kini terasa semakin berharga. Tim penulis tidak hanya mengumpulkan data formal, tetapi juga melakukan penggalian mendalam melalui wawancara panjang, kunjungan ke kediaman beliau, hingga interaksi langsung dengan keluarga.
Di situlah terlihat sisi lain Nurwiyatno—sosok yang sederhana dalam keseharian, namun kaya dalam nilai kehidupan. Ia tidak pernah membesar-besarkan pencapaiannya, justru lebih sering berbagi tentang proses, tentang kegagalan, dan tentang bagaimana menjaga integritas di tengah godaan jabatan.
Setiap pertemuan dengan beliau selalu meninggalkan kesan. Cara ia menyapa dengan senyum ringan, cara ia mendengarkan dengan penuh perhatian, hingga cara ia menyelipkan humor di tengah obrolan serius—semuanya membentuk kenangan yang tidak mudah dilupakan.
Bagi tim PustakaJC, Nurwiyatno bukan sekadar tokoh yang ditulis kisahnya. Ia adalah bagian dari perjalanan itu sendiri. Ada kedekatan yang terbangun, ada kepercayaan yang diberikan, dan ada pelajaran hidup yang terserap tanpa terasa.
Kini, ketika beliau telah berpulang, buku itu bukan lagi sekadar karya dokumentatif. Ia berubah menjadi pengingat—bahwa pernah ada sosok yang menjalani hidup dengan ketulusan, bekerja dengan dedikasi, dan memimpin dengan hati.
Kepergian Nurwiyatno meninggalkan duka mendalam, namun juga warisan nilai yang akan terus hidup. Tentang integritas, tentang kesederhanaan, dan tentang bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.
Selamat jalan, Cak Nur.
Namamu mungkin telah berpulang, tetapi jejakmu akan tetap tinggal—di hati, di ingatan, dan dalam setiap cerita yang pernah kau bagi.

Berikut sinopsis buku biografi Nurwiyatno yang ditulis tim PustakaJC.co tahun 2019 lalu.
Sejumlah karakter bisa dipakai mengidentifikasi ciri-ciri Arek Suroboyo. Misalnya, egaliter, suka bicara blak-blakkan, pejuang tangguh, bonek alias bondo nekat, tapi sebenarnya berhati lembut dan suka menolong alias dermawan. Karakter itu pula yang melekat pada diri Cak Nur.
Ya, Nurwiyatno.
Arek Suroboyo yang sejak kecil hidup dengan tradisi dan kultur budaya di daerah yang menjadi tonggak perjuangan melawan penjajah. Bukan hanya Kolonialisme Belanda atau Jepang, tapi penjajahan dalam bentuk lain yang membelenggu masyarakat. Karakter arek itu memberi napas bagi para pejuang. Baik dulu maupun sekarang.
Roh pejuang itu pula yang menjadikan hidup Cak Nur tidak gentar menghadapi tantangan. Seberat apa pun. Sejak kecil Cak Nur sudah dididik mandiri dalam asuhan seorang Ibu dan Kakaknya yang satu kata untuk menjadikan Cak Nur sebagai Arek Suroboyo yang sukses dan selalu mengabdi untuk bangsa dan negara.
Sepanjang kenangan soal perjalanan hidup Cak Nur dalam buku ini menunjukkan bukti bahwa hidup bagai roda pedati. Kadang di bawah, kadang pula di atas. Cak Nur bersama keluarga dan teman-temannya merupakan kaum dhuafa yang tanpa lelah, sabar, dan tawakal terus berusaha meraih hidup lebih baik. Lebih sejahtera. Mereka menerima posisi bagian bawah roda pedati itu.
Namun roda itu tidak diam. Terus bergerak. Di bawah naungan doa orang tua, Cak Nur pun terus saja melangkah. Tak pernah surut berjuang, hingga akhirnya doa-doa Sang Ibu pun dikabulkan oleh Allah SWT dan dia berhasil dalam setiap langkahnya. Mulai sukses bidang pendidikan, merintis usaha dari loper koran, berjualan bakso saat mahasiswa, hingga bisnis jual beli mobil, property, dan kuliner, hingga kariernya melejit di birokrasi Pemerintahan Provinsi Jawa Timur.
Selengkapnya bisa hubungi redaksi PustakaJC.co di email redaksi@pustakajc.co
(int)