Lawan Stunting dan Anemia Anak, Saatnya Kolaborasi Jadi Solusi

komunitas | 07 Juni 2025 20:09

Lawan Stunting dan Anemia Anak, Saatnya Kolaborasi Jadi Solusi
Ilustrasi Petugas kesehatan mengukur lingkar lengan seorang balita di Posyandu Semarak RT 055, Muara Rapak, Balikpapan, Kalimantan Timur. (dok antara)

JAKARTA, PustakaJC.co - Indonesia masih darurat stunting dan anemia. Tapi kini, perlawanan tak lagi datang dari satu pihak. Pemerintah, akademisi, hingga industri pangan bersatu dalam gerakan sistemik demi masa depan anak bangsa.

Angka stunting anak di Indonesia memang turun, tapi masih tinggi di 19,8%. Sementara 1 dari 3 balita masih mengalami anemia. Dua masalah ini tak hanya menghambat tumbuh kembang fisik, tapi juga mengancam daya pikir dan produktivitas generasi muda ke depan. Dilansir dari antaranews.com, Sabtu, (7/6/2025).

“Anemia yang kronis terbukti menurunkan kemampuan belajar anak. Stunting pun bukan soal tinggi badan, tapi otak yang tidak berkembang optimal,” jelas Prof. Hardinsyah, Ph.D., Ketua Komite Profesor IPB dan Presiden International College of Nutrition.

Melihat situasi ini, pendekatan lintas sektor jadi kunci. Bukan hanya tanggung jawab negara dan tenaga medis, tapi juga industri yang kini aktif membangun kesadaran gizi masyarakat.

Salah satu contoh konkret datang dari program Generasi Maju Bebas Stunting oleh Sarihusada. Program ini tak sekadar menjual produk nutrisi, tetapi melakukan skrining gizi anak di 50 titik, menjangkau lebih dari 8.000 anak sejak 2023, menyediakan edukasi dan konsultasi gizi ke keluarga muda.

Langkah-langkah tersebut terbukti memberi dampak. “Ini bukan hanya kampanye, tapi gerakan nyata dengan pendekatan ilmiah dan partisipatif,” ujar Prof. Hardinsyah.

Inovasi juga terlihat dalam pengembangan produk. Zat besi kini dikombinasikan dengan vitamin C untuk meningkatkan penyerapan, serta tambahan DHA dan minyak ikan untuk mendukung perkembangan otak.

“Formulasi seperti ini menunjukkan transformasi nutrisi dari sekadar pemenuhan gizi dasar menjadi strategi intervensi berbasis riset,” tambahnya.

Namun, tantangannya tidak berhenti di produk. Edukasi, pelibatan posyandu, kerja sama kader kesehatan, dan integrasi data antara swasta dan pemerintah menjadi langkah krusial.

Gizi anak bukan lagi soal rumah tangga semata, tapi agenda besar pembangunan nasional. Maka, setiap pihak – dari laboratorium hingga dapur, dari korporasi hingga komunitas – punya peran dalam membentuk generasi sehat, cerdas, dan produktif. (ivan)