SURABAYA, PustakaJC.co - Provinsi Jawa Timur hanya dikenal lewat wisata alamnya atau kota-pelabuhannya, tetapi juga lewat kekuatan komunitas lokal yang terus tumbuh dan bergerak di berbagai bidang. Dari lingkungan hingga pendidikan, dari literasi budaya hingga sosial-kemasyarakatan — sebagian besar kegiatan ini dijalankan dengan energi sukarela dan semangat kolektif yang tinggi.
Salah satu contoh yang paling menonjol adalah Tunas Hijau (TH), sebuah organisasi lingkungan hidup yang berbasis di Surabaya. TH awalnya bermula dari pengiriman lima pemuda dari Jawa Timur ke Australia pada Maret 1999.
Sejak itu, TH konsisten menjalankan program-program nyata, seperti membersihkan pantai Kenjeran yang diikuti 6.830 orang — serta mendirikan beberapa hutan kota di Surabaya sejak 2002.
Komunitas lain yang juga menarik adalah Komunitas Bintang Nusantara (BN) yang hadir di Surabaya dengan misi sosial dan keberagaman. Komunitas ini aktif mengajar di sekolah-sekolah, mengadakan program “BN Go to School”, dan aksi berbagi saat Ramadan.
Founder BN menyatakan bahwa komunitas ini bukan sekadar wadah, melainkan gerakan bersama untuk menyatukan keberagaman.
Tidak kalah penting, data menunjukkan bahwa hingga akhir tahun 2023, jumlah “komunitas belajar” di Jawa Timur sudah melebihi 9.000 komunitas — tertinggi di seluruh Indonesia.
Sementara itu, provinsi ini juga memiliki sebanyak 983 Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), atau sekitar 44,4 % dari total KIM di Indonesia.
Mengapa Fenomena Ini Layak Diperhatikan
Keberagaman bidang: Komunitas-komunitas ini bergerak dalam spektrum luas: lingkungan hidup, edukasi anak-anak jalanan, literasi budaya, kewirausahaan muda, hingga komunitas hobi. Misalnya, di Surabaya terdapat komunitas literasi dan komunitas sepeda tua.
Dampak nyata: Dengan aktifnya komunitas-komunitas tersebut, banyak program-intervensi yang berjalan dari akar rumput, mulai dari kebersihan lingkungan, pendidikan anak, hingga pemberdayaan sosial.
Potensi pengembangan: Dengan munculnya data komunitas belajar yang sangat banyak dan KIM yang cukup besar, terdapat pintu terbuka untuk kolaborasi pemerintah-swasta-masyarakat.
Cerita inspiratif: Kisah-kisah seperti Tunas Hijau yang memulai dari lima pemuda hingga bisa mengorganisir ribuan orang memberi nilai naratif yang kuat (storytelling) dan patut viral di media sosial.
Tantangan yang Dihadapi
Meskipun banyak komunitas aktif, tetap ada tantangan yang tidak bisa diabaikan:
Komitmen jangka panjang: Banyak komunitas menghadapi isu kelelahan pengurus atau generasi penerus yang tidak konsisten. (BN menyebut salah satu tantangannya adalah komitmen pengurus)
Pendanaan & sumber daya: Sebagai organisasi non-profit banyak bergantung pada donasi, sponsor atau bahkan dana pribadi para penggerak.
Skala dan replikasi: Meskipun jumlah komunitas besar, masih ada lokasi yang belum tercapai secara maksimal, terutama di wilayah terpencil atau PAUD/TK.
Wujud Program & Kegiatan
Beberapa program konkret yang dijalankan oleh komunitas di Jatim:
Bersih-bersih lingkungan (contoh: Tunas Hijau).
Pengajaran dan pendampingan anak-anak di sekolah atau panti (contoh: Bintang Nusantara).
Literasi dan hobi—seperti komunitas sepeda tua di Malang atau komunitas literasi Kalimetro.
Pembentukan ruang kreatif anak muda seperti komunitas KARSA (Komunitas Arek Surabaya) yang fokus aksi sosial dan kreativitas anak muda di Surabaya.
Tips untuk Terlibat atau Memulai Komunitas
Bagi pembaca di PustakaJC.co yang tertarik untuk bergabung atau memulai komunitas di Jawa Timur, berikut beberapa poin yang bisa dipertimbangkan:
1. Tentukan bidang yang ingin dijangkau (lingkungan, sosial, budaya, edukasi, hobi).
2. Bangun jaringan sederhana dulu – bisa dengan teman-teman, kampus, sekolah, atau komunitas kecil.
3. Buatlah kegiatan kecil yang konsisten, bukan langsung besar—konsistensi lebih penting.
4. Cari dukungan: kolaborasi dengan sekolah/kelurahan/pemerintah lokal bisa memperkuat.
5. Dokumentasikan kegiatan Anda—foto, video, cerita—agar bisa jadi konten yang menarik dan viral di media sosial.
6. Pertimbangkan sumber dana dan model keberlanjutan—apakah partisipasi sukarela, donasi, atau kerja sama sponsor.
7. Manfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan komunitas Anda—contoh seperti “komunitas belajar”, “KIM”, atau media sosial. (int)