SURABAYA, PustakaJC.co – Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis pada perdagangan Kamis, (26/3/2026), di tengah harapan meredanya konflik Timur Tengah.
Rupiah tercatat naik 7 poin atau 0,04 persen ke level Rp16.904 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.911 per dolar AS. Dilansir dari suarasurabaya.net, Jumat, (27/3/2026).
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah dipicu sentimen positif dari sinyal diplomasi yang mulai muncul terkait konflik di kawasan Timur Tengah.
“Pasar merespons adanya sinyal diplomatik dari Teheran yang sedang meninjau proposal perdamaian yang didukung AS,” ujarnya.
Meski belum ada keputusan resmi dari Iran, pelaku pasar melihat peluang de-eskalasi konflik masih terbuka. Namun, ketidakpastian tetap tinggi.
“Kurangnya kejelasan membuat pelaku pasar tetap berhati-hati,” imbuhnya.
Di sisi lain, pergerakan harga minyak dunia juga menjadi perhatian. Ketegangan di kawasan Teluk membuat pasokan energi terganggu dan memicu lonjakan harga.
Minyak mentah Brent bahkan sempat menembus di atas 119 dolar AS per barel pada awal bulan ini.
Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital sekitar 20 persen distribusi minyak global, kini menjadi titik krusial yang terus dipantau pasar.
Selain itu, investor juga mencermati sikap Amerika Serikat yang berpotensi mengambil langkah lebih tegas jika Iran tidak menunjukkan itikad kooperatif.
“Ini menambah ketidakpastian baru bagi pasar,” tegas Ibrahim.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan ke level Rp16.903 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.905. (ivan)