“Pengunjung tidak hanya membaca buku, tetapi juga banyak yang mengerjakan tugas, terutama dari kalangan pelajar dan mahasiswa,” lanjutnya.
Di tengah arus digital yang serba cepat, suasana seperti ini menjadi potret budaya literasi yang tetap hidup. Perpustakaan bukan sekadar tempat membaca, tetapi juga ruang bertumbuh bagi mereka yang ingin memperdalam ilmu pengetahuan.
“Jika ingin bahagia, kuncinya adalah berilmu. Dan untuk berilmu, kita harus membiasakan diri dengan literasi,” tambahnya.
Dukungan pemerintah melalui penyediaan fasilitas ini menjadi fondasi penting dalam menumbuhkan semangat belajar generasi muda. Dari ruang-ruang sunyi perpustakaan, harapan akan masa depan yang lebih berilmu perlahan tumbuh—menguatkan keyakinan bahwa buku tetap menjadi jendela dunia. (Frchn)