Menurutnya, tingginya ancaman terhadap perempuan di media digital tidak lepas dari budaya patriarki yang masih melekat di masyarakat dan terbawa hingga ke ruang maya. Kondisi tersebut membuat perempuan lebih rentan menjadi sasaran komentar negatif, body shaming, hingga serangan personal di media sosial.
“Perempuan lebih sering menerima komentar negatif, body shaming, dan serangan personal di media digital karena internet masih membawa ketimpangan gender dan budaya patriarki yang sudah lama ada di masyarakat. Teknologinya memang baru, tetapi cara orang memperlakukan perempuan masih sama seperti di dunia nyata,” jelasnya.
Pakar Bio-antropologi dan Antropologi Forensik itu menambahkan, identitas perempuan di ruang publik masih kerap dikaitkan dengan aspek pribadi seperti tubuh, emosi, moralitas, dan relasi sosial. Akibatnya, ketika perempuan menyampaikan pendapat di media digital, respons yang muncul sering kali menyerang identitas pribadi dibanding substansi gagasannya.