SURABAYA, PustakaJC.co – Upaya pencegahan penyakit tidak menular terus diperkuat di tingkat masyarakat. Pasca perayaan Idul Adha 1447 Hijriah, warga Kelurahan Kedurus, Kecamatan Karang Pilang, Surabaya, mengikuti pelatihan pemeriksaan kesehatan mandiri yang digelar pada Sabtu (30/5/2026).
“Sebenarnya daging yang dikonsumsi tidak terlalu banyak, namun makanan pendamping seperti santan dan gula olahan juga perlu diperhatikan. Masyarakat tetap boleh mengonsumsi makanan tersebut, tetapi harus dibatasi,” ujarnya. Demikian dikutip dari jawapos.com, Sabtu, (30/5/2026).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dan kader kesehatan dalam mendeteksi dini diabetes melitus serta hipertensi sehingga risiko komplikasi dapat dicegah sejak awal. Pelatihan berlangsung di Kantor Kelurahan Kedurus dan mendapat antusiasme tinggi dari warga yang hadir.
Ketua tim pengabdi Poltekkes Kemenkes Surabaya, Dyah Wijayanti, S.Kep., Ns., M.Kep., menjelaskan bahwa momentum setelah Idul Adha menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga pola makan dan memantau kondisi kesehatan.
Menurutnya, bukan hanya konsumsi daging yang perlu diperhatikan, tetapi juga makanan pendamping yang kerap dikonsumsi bersama daging, seperti santan dan berbagai olahan manis yang mengandung gula tinggi.
Dyah menambahkan, diabetes dan hipertensi masih menjadi penyakit tidak menular dengan angka kejadian yang cukup tinggi di Surabaya maupun Jawa Timur. Karena itu, keterlibatan masyarakat hingga tingkat lingkungan terkecil dinilai sangat penting dalam menekan angka kasus kedua penyakit tersebut.
Dalam pelatihan tersebut, para peserta, khususnya Kader Surabaya Hebat (KSH), mendapatkan pembekalan metode Health Behavior Self Care (HBS). Metode ini dirancang untuk mendorong masyarakat lebih mandiri dalam menjaga kesehatan sekaligus mengenali tanda-tanda awal gangguan kesehatan yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Melalui pelatihan ini, kader kesehatan diajarkan cara menggunakan alat pemeriksaan kesehatan sederhana, memahami faktor risiko diabetes dan hipertensi, serta menentukan langkah yang harus dilakukan ketika menemukan warga dengan kondisi kesehatan tertentu.
Dyah menjelaskan bahwa kader kesehatan memiliki peran strategis sebagai mitra tenaga kesehatan di tingkat masyarakat. Mereka diharapkan mampu membantu program Dinas Kesehatan melalui koordinasi dengan puskesmas dan tenaga medis setempat guna menekan angka kejadian penyakit tidak menular.
Pelaksana Tugas (Plt) Lurah Kedurus, Donny, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan ini dapat memperkuat kapasitas kader kesehatan sebagai garda terdepan dalam memberikan edukasi dan melakukan skrining awal kepada warga.
Ia menilai waktu pelaksanaan kegiatan sangat relevan karena berlangsung setelah periode meningkatnya konsumsi daging saat Idul Adha. Dampak pola makan yang kurang sehat, kata Donny, biasanya tidak langsung dirasakan, melainkan dapat muncul dalam beberapa bulan setelahnya.
Karena itu, masyarakat tidak hanya dianjurkan untuk mengatur pola makan, tetapi juga menjaga aktivitas fisik melalui olahraga serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, termasuk pengecekan tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol.
Ke depan, hasil pelatihan ini akan diterapkan di masing-masing wilayah RW. Kader kesehatan diharapkan dapat melakukan pemeriksaan kesehatan sederhana saat kegiatan warga berlangsung, sehingga layanan kesehatan semakin dekat dan mudah dijangkau masyarakat.
Koordinator Kelurahan Kader Surabaya Hebat Kedurus, Rini, menyambut positif pelatihan tersebut. Menurutnya, kemampuan mendeteksi dini sangat dibutuhkan karena masih banyak warga yang hidup dengan diabetes maupun hipertensi.
Selama ini, kader kesehatan aktif melakukan kunjungan rumah untuk menjangkau warga yang tidak dapat hadir ke Posyandu, termasuk pekerja, pelajar, maupun lansia dengan keterbatasan mobilitas.
Rini juga mengungkapkan bahwa keterbatasan alat pemeriksaan kesehatan menjadi salah satu kendala yang selama ini dihadapi kader di lapangan. Oleh karena itu, dukungan peralatan dan peningkatan kapasitas kader sangat membantu dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.
Dengan tambahan pengetahuan dan alat pemeriksaan yang memadai, kader kesehatan diharapkan mampu bergerak lebih cepat dalam mengidentifikasi warga yang berisiko mengalami komplikasi penyakit. Warga yang membutuhkan penanganan lebih lanjut nantinya dapat segera dirujuk ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.
Melalui pelatihan ini, upaya pencegahan diabetes dan hipertensi tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Keterlibatan masyarakat melalui kader kesehatan di tingkat lingkungan diharapkan menjadi benteng pertama dalam mendeteksi risiko penyakit lebih dini, terutama setelah periode konsumsi makanan tinggi lemak dan gula saat perayaan Idul Adha. (frchn)