
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat PPAI, H. Sam Udjo, mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan angklung sebagai media pendidikan, hiburan, sekaligus sarana memperkuat persaudaraan.
Menurutnya, angklung bukan hanya milik satu daerah, melainkan milik seluruh bangsa Indonesia.
“Saya membaca dalam sejarah bahwa Banyuwangi memiliki tradisi angklung sendiri. Jadi jangan melihat angklung hanya milik satu daerah. Ini adalah budaya Indonesia yang harus kita jaga dan kembangkan bersama,” ujarnya.
Sam Udjo juga menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan bahan baku angklung melalui pelestarian bambu. Menurutnya, pengembangan angklung harus dilakukan dari hulu hingga hilir agar tetap lestari.
“Kalau kita menikmati hasilnya saja tetapi tidak menjaga bambunya, maka suatu saat bisa punah. Karena itu pelestarian bambu, pelatihan pembuatan angklung, dan pengembangan industri kreatif harus berjalan beriringan,” katanya.