Menariknya, Kementan menilai musim kemarau tidak selalu identik dengan penurunan hasil pertanian.
Dengan pengelolaan air yang baik, cuaca cerah justru dapat menjadi peluang meningkatkan produktivitas tanaman karena intensitas sinar matahari yang lebih optimal.
"Di saat musim kemarau, pencahayaan matahari sangat baik sehingga produktivitas tanaman bisa meningkat. Ini menjadi peluang untuk meningkatkan produksi apabila dikelola dengan teknologi yang tepat," jelasnya.
Untuk memperkuat mitigasi dampak kekeringan, pemerintah terus mengembangkan sistem irigasi perpompaan yang menjadi salah satu andalan menghadapi perubahan iklim.
Sepanjang 2026, pemerintah menyiapkan tambahan pompa air yang mampu melayani sekitar satu juta hektare lahan pertanian. Program tersebut melengkapi sistem perpompaan yang sebelumnya telah mendukung pengairan sekitar dua juta hektare lahan di berbagai daerah.
Selain itu, pemerintah menyiapkan sekitar 57 ribu unit pompa air serta berbagai alat dan mesin pertanian lainnya untuk mendukung produksi pangan nasional.
Sebagai bentuk perlindungan bagi petani, pemerintah juga menyiapkan program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dengan nilai pertanggungan hingga Rp6 juta per hektare bagi lahan yang mengalami gagal panen akibat bencana.
Petani terdampak kekeringan juga akan memperoleh bantuan benih gratis, sarana produksi, alat mesin pertanian, hingga pendampingan percepatan tanam kembali.
Dengan berbagai langkah tersebut, Kementan optimistis produksi pangan nasional tetap terjaga meskipun Indonesia memasuki musim kemarau pada 2026.
(int)