JAKARTA, PustakaJC.co – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mengungkap perjalanan panjang NU yang awalnya dibangun sebagai organisasi kader ulama hingga berkembang menjadi organisasi kemasyarakatan berbasis akar rumput terbesar di dunia.
Hal itu disampaikan Gus Yahya saat membuka Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) Angkatan II Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Rembang di Hotel Pollos, Rembang, Jawa Tengah, Rabu, (15/7/2026).
Menurutnya, pada masa awal berdiri, NU menerapkan standar keulamaan yang sangat ketat. Mereka yang terlibat dalam organisasi merupakan ulama yang telah melalui pendidikan khusus dan proses kaderisasi yang tidak sederhana. Dilansir dari nu.or.id, Jumat, (17/7/2026).
“Orang yang dipanggil oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari itu menunjuk kepada karakteristik yang jelas dan ketat karena yang diundang itu adalah para ulama. Ini berarti mereka yang terdidik secara khusus. Tidak mungkin tidak terdidik secara khusus, enggak mungkin menjadi ulama kalau tidak dididik secara khusus,” ujarnya.
Gus Yahya kemudian mengisahkan cerita yang pernah disampaikan KH Muchith Muzadi, kakak kandung KH Hasyim Muzadi. Saat masih menjadi santri senior di Pesantren Tebuireng, KH Muchith telah dipercaya menjadi tangan kanan KH Abdul Karim Hasyim untuk membantu berbagai urusan yang berkaitan dengan kepemimpinan NU.
Namun, meski telah memegang tanggung jawab penting tersebut, KH Muchith saat itu belum bisa menjadi anggota NU.
“Jadi tidak mudah. Ini berarti bahwa memang NU itu pada dasarnya didirikan sebagai organisasi kader,” kata Gus Yahya.
Seiring perjalanan waktu, NU mengalami berbagai perkembangan fungsi dan peran. Selain pernah terlibat dalam aktivitas politik melalui partai politik, NU kemudian tumbuh menjadi organisasi kemasyarakatan dengan basis warga yang sangat luas.
“Menjadi organisasi massa akar rumput yang demikian besar dengan ukuran yang sekarang diakui secara universal sebagai organisasi Muslim terbesar di dunia,” jelasnya.
Gus Yahya menegaskan bahwa organisasi sebesar NU membutuhkan sistem pengelolaan yang baik. Karena itu, sejak awal dibentuk struktur kepengurusan yang bertugas mengelola organisasi sekaligus melayani jamaah yang terus berkembang.
“Tidak mungkin organisasi atau kumpulan orang ini dibiarkan gelundung begitu saja tanpa ada pengelolaan. Harus dikelola,” tegasnya.
Meski telah berusia lebih dari satu abad, Gus Yahya menilai masih ada karakter yang menonjol dalam tubuh NU, yakni kecenderungan warga berkumpul di sekitar figur-figur besar. Menurutnya, tantangan ke depan adalah memperkuat kerja organisasi yang terstruktur dan berbasis kelompok-kelompok strategis agar mampu menjawab kebutuhan jamaah secara lebih efektif. (ivan)