Selain persoalan kelembagaan, Anwar juga menyoroti perlunya pembaruan cara pandang dalam memahami ajaran keagamaan. Ia berpandangan bahwa diskursus keislaman di lingkungan NU perlu lebih diarahkan pada upaya menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, seperti kemiskinan, ketimpangan sosial, pendidikan, hingga tantangan perkembangan teknologi.
Dalam tulisannya, ia mengingatkan bahwa tradisi intelektual NU selama ini memiliki modal besar untuk terus berkembang melalui pendekatan yang metodologis. Karena itu, menurutnya, warisan pemikiran para ulama tidak cukup dipahami sebagai kumpulan pendapat yang bersifat tetap, tetapi juga sebagai metode berpikir yang mampu melahirkan solusi sesuai perkembangan zaman.
Anwar juga menilai generasi muda NU memiliki peran penting dalam membawa semangat pembaruan tersebut. Dengan semakin banyak kader yang berkiprah di berbagai sektor, ia berharap lahir gagasan-gagasan baru yang tetap berpijak pada nilai-nilai Aswaja sekaligus responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Di bidang organisasi, ia mendorong penguatan sistem tata kelola yang lebih profesional, transparan, dan berbasis kompetensi. Menurutnya, mekanisme tersebut akan memperkuat kepercayaan publik sekaligus menjaga NU tetap menjadi organisasi yang independen dan berorientasi pada pelayanan umat.