Ia menjelaskan, pada sektor hulu BI Jember memberikan pendampingan berupa penguatan kelembagaan kelompok tani, pelatihan Good Agricultural Practices (GAP), budidaya pertanian organik, hingga pencatatan keuangan menggunakan aplikasi SIAPIK. Upaya tersebut dilakukan agar petani memiliki tata kelola usaha yang baik dan lebih mudah mengakses pembiayaan dari perbankan.
Sementara di sektor hilir, BI memfasilitasi promosi produk, business matching dengan distributor, ritel modern, hotel, restoran hingga pasar ekspor. Pada 2019, Kelompok Tani Organik Sirtanio berhasil mengekspor 2,8 ton beras organik bersama PT Javara Indonesia dengan nilai mencapai Rp52,57 juta.
Tak hanya itu, pada 2026 BI juga memfasilitasi akses pembiayaan dari Bank Jatim sebesar Rp1,2 miliar untuk mendukung pengembangan usaha dan meningkatkan kapasitas produksi.
Iqbal mengatakan Sirtanio dipilih sebagai mitra binaan karena memiliki model bisnis yang tidak hanya berorientasi pada penjualan beras, tetapi juga memberdayakan petani melalui sistem kemitraan. Kelompok tersebut juga dinilai memiliki kontinuitas produksi, benih unggulan hasil pengembangan sendiri, manajemen usaha yang baik, serta jaringan pemasaran yang telah menjangkau berbagai daerah.
Hasil pendampingan tersebut terlihat dari lonjakan produksi beras organik yang meningkat dari 80 ton pada 2020 menjadi 344 ton pada 2025 atau tumbuh rata-rata 33,9 persen setiap tahun. Pendapatan usaha juga naik dari sekitar Rp1,40 miliar menjadi Rp7,10 miliar dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 38,4 persen per tahun.