SURABAYA, PustakaJC.co – Menjadi jurnalis di era digital bukan sekadar mengejar kecepatan informasi, melainkan menjaga marwah kebenaran dan integritas. Pesan mendalam inilah yang mengemuka dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-10 hariannasionalnews.com yang digelar di Gedung PWI Jatim, Sabtu, (26/9/2026).
Hadir sebagai penceramah, tokoh Muslim Tionghoa sekaligus aktivis Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya, Ustadz Hasan Basri Fuk (Ustadz Leim Fuk Shan), membedah sejarah dan esensi profesi jurnalis dalam pandangan Islam. Menurutnya, akar pekerjaan jurnalisme sejatinya telah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW melalui peran para perawi hadis. Dilansir dari jatimpos.co, Senin, (28/9/2026).
"Intinya adalah mencari dan menyampaikan pesan atau dakwah secara benar," ujar Ustadz Liem di hadapan puluhan jurnalis dan tamu undangan.
Ia menceritakan bagaimana para perawi masa lalu mencatat ucapan dan tindakan Rasulullah SAW di atas daun kurma atau tulang dengan segala keterbatasan. Kendati alatnya sederhana, kekuatan utama dari catatan tersebut terletak pada kebenaran informsinya.
Belajar dari ketelitian perawi hadis, Ustadz Liem menekankan pentingnya jurnalis masa kini untuk memegang teguh etika. Wartawan yang baik adalah mereka yang berani menyajikan berita berdasarkan fakta murni, bukan pesanan atau manipulasi.
"Tidak ada istilah '86'—yang buruk dijadikan baik atau sebaliknya demi mendapat imbalan tertentu," kelakarnya yang disambut tawa hadirin.
Integritas wartawan, lanjutnya, diuji dari komitmennya dalam melakukan verifikasi data, menjalankan konfirmasi secara berimbang (tabayun), serta tidak goyah oleh iming-iming materi.
Rahasia Keberkahan di Balik Pendapatan "Tak Mesti"
Suasana makin cair saat Ustadz Liem menyentil dinamika dapur jurnalis. "Berapa sih gaji atau pendapatan wartawan?" tanyanya yang langsung dijawab serentak oleh para jurnalis, "Tak mesti!"
Menanggapi hal itu, Ustadz Liem mengingatkan bahwa rezeki tidak selalu datang dalam hitungan matematis, melainkan melalui jalan tak terduga atas kehendak Allah SWT, sebagaimana tertera dalam Al-Qur'an Surat At-Talaq ayat 2-3.
Bagi jurnalis, kunci utama rezeki terletak pada keberkahan, bukan semata nominal. Keberkahan hadir dari cara kerja yang bersih, tanpa pemerasan, penipuan, atau korupsi. Ia membagikan kisah nyata kawan-kawannya yang walau berpenghasilan pas-pasan, mampu membesarkan dan menyekolahkan anak-anak mereka hingga sarjana dengan tenang.
Oase Pencerahan bagi Insan Pers
Apresiasi tinggi datang dari para tokoh pers Jawa Timur. Pemimpin Redaksi jatimpos.co sekaligus Sekretariat PWI Jatim, Syaiful Anam (Cak Anam), menilai analogi perawi hadis seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim menjadi tolok ukur ideal bagi media modern.
"Wartawan dan media tak bisa menyamai perawi hadis sahih, tapi setidaknya kita berupaya meniru integritas mereka. Media yang dipercaya masyarakat karena kebenaran akan mendatangkan keberkahan," tegas Cak Anam.
Hal senada disampaikan Ketua PWI Jatim, Lutfil Hakim, yang menyebut momentum ceramah agama di HUT media sebagai hal langka yang menyegarkan spiritualitas jurnalis.
Menutup perayaan tersebut, Pemimpin Redaksi Harian Nasional News (HNN), Nurdin Longgari, kembali menegaskan komitmen internalnya. Ia meminta seluruh jurnalis yang tergabung dalam grup HNN untuk terus menjadikan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) sebagai benteng moral dan pedoman utama dalam bertugas di lapangan. (ivan)