SURABAYA, PustakaJC.co – Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) sebesar 11,2 persen pada Jumat, (16/10/2026) dinilai bukan sekadar gejolak teknis pasar. Pengamat ekonomi politik, Ichsanuddin Noorsy, menyebutkan terdapat sedikitnya sembilan faktor saling terkait yang mencerminkan rapuhnya kerentanan fundamental ekonomi serta sistem keuangan nasional.
Menurut Noorsy, salah satu pemicu utama keraguan investor berakar dari isu ketahanan energi domestik yang ditandai dengan fenomena antrean panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
“Antrean panjang di SPBU mengindikasikan ketahanan energi melemah di bawah 21 hari,” ujar Noorsy saat dilansir dari suarasurabaya.net, Jumat, (16/10/2026).
Ia menambahkan bahwa ketidakpastian pasokan energi secara langsung memperburuk kepercayaan publik dan melemahkan sentimen pasar.
Krisis kepercayaan tersebut turut memberi tekanan hebat pada nilai tukar rupiah yang kini membayangi level Rp18.000 per dolar AS. Menurutnya, pelemahan mata uang ini secara otomatis memicu lonjakan biaya impor (imported inflation) yang kemudian merembet pada kenaikan suku bunga acuan.
“Artinya inflasi akan naik, suku bunga naik,” tegasnya. Kondisi ini dikhawatirkan menggerus daya beli masyarakat sekaligus membengkakkan biaya pendanaan (cost of fund) bagi dunia usaha.