Inflasi Gresik Tembus 3,19 Persen, Harga Pangan Membekap Daya Beli Warga

gresik | 03 Oktober 2026 18:59

Inflasi Gresik Tembus 3,19 Persen, Harga Pangan Membekap Daya Beli Warga
Ilustrasi masyarakat berbelanja kebutuhan sehari-hari di Gresik di tengah inflasi September 2026. (dok gresiksatu)

GRESIK, PustakaJC.co - Kenaikan harga barang dan jasa mulai menekan daya beli masyarakat Kabupaten Gresik. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gresik mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) pada September 2026 menyentuh angka 3,19 persen.

 

Berdasarkan Berita Resmi Statistik BPS Kabupaten Gresik Nomor 21/10/3525/Th. VII yang dirilis 1 Oktober 2026, inflasi secara bulanan (month-to-month) tercatat sebesar 0,24 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date) sejak awal tahun berada di angka 1,93 persen. Dilansir dari gresiksatu.com, Sabtu, (3/10/2026).

 

Laju inflasi ini mengindikasikan bahwa harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat Gresik pada September 2026 secara umum lebih tinggi ketimbang periode yang sama di tahun sebelumnya.

 

 

Makanan dan Transportasi Jadi Penyumbang Terbesar

 

Sektor pangan menjadi pemicu utama tergerusnya daya beli warga. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan di Gresik, yakni mencapai 1,43 persen.

 

Selain kebutuhan dapur, sejumlah kelompok pengeluaran lain turut memberikan tekanan signifikan terhadap biaya hidup masyarakat, antara lain:

  • Transportasi: memberikan andil 0,43 persen.
  • Perawatan Pribadi & Jasa Lainnya: memberikan andil 0,38 persen.
  • Penyediaan Makanan & Minuman/Restoran: memberikan andil 0,28 persen.
  • Pendidikan: memberikan andil 0,22 persen.

 

Kepala BPS Kabupaten Gresik, [Nama Kepala BPS/Pejabat], membenarkan bahwa kelompok makanan dan transportasi memegang peran dominan dalam pergerakan IHK di Gresik bulan ini.

 

 

Warga dan Pedagang Mulai Merasakan Dampak

 

Di tingkat tapak, tekanan kenaikan harga ini memaksa warga untuk memperketat alokasi belanja harian. Rahma (34), seorang ibu rumah tangga di Kecamatan Kebomas, mengaku harus memutar otak agar dapur tetap ngebul tanpa membobol tabungan.

 

"Harga bahan pokok seperti beras dan bumbu dapur terasa sekali naiknya. Karena pendapatan suami tetap, terpaksa belanja bulanan ditakar lagi. Pengeluaran untuk kebutuhan sekunder terpaksa dipangkas dulu," tutur Rahma saat ditemui di Pasar Baru Gresik.

 

Kondisi senada diakui Slamet (45), salah satu pedagang bahan pokok di pasar yang sama. Menurutnya, kenaikan harga modal membuat volume pembelian konsumen ikut menyusut.

 

"Pembeli banyak yang mengurangi jumlah belanjanya. Yang biasanya beli satu kilo, sekarang diecer jadi setengah kilo. Dari distributor memang harganya sudah naik, jadi kami pedagang eceran juga serba salah," ungkap Slamet.

 

Lebih Rendah dari Angka Nasional

 

Meski dirasakan memberatkan oleh warga, angka inflasi tahunan Gresik sebesar 3,19 persen ini sejatinya masih berada sedikit di bawah rerata nasional. Secara nasional, BPS mencatat inflasi September 2026 berada di level 3,28 persen (y-on-y), 0,30 persen (m-to-m), dan 2,17 persen (y-td).

 

 

Kendati secara agregat berada di bawah angka nasional, tekanan yang dirasakan setiap rumah tangga di Gresik tetap bervariasi. Hal ini bergantung pada struktur pengeluaran masing-masing keluarga, terutama bagi mereka yang porsi pendapatannya didominasi untuk pemenuhan pangan dan mobilitas harian.

 

Langkah Stabilisasi Pemda

 

Menanggapi kondisi ini, pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Gresik berencana mengintensifkan pemantauan harga pasar dan kelancaran rantai pasok pasokan pangan pokok.

 

Tanpa adanya penyesuaian tingkat pendapatan yang setara, laju inflasi ini berpotensi makin menyempitkan ruang belanja nonpokok serta memangkas porsi tabungan masyarakat. Oleh karena itu, langkah intervensi pasar oleh pemerintah daerah serta kedisiplinan warga dalam mengatur prioritas belanja menjadi kunci untuk menjaga ketahanan ekonomi rumah tangga di Kabupaten Gresik. (ivan)