GRESIK, PustakaJC.co - Menjelang musim tanam periode Oktober 2026 hingga Maret 2027, PT Petrokimia Gresik menyiapkan pasokan pupuk bersubsidi sebanyak 443.436 ton. Selain memastikan ketercukupan stok, produsen pupuk anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero) ini juga menyoroti kondisi kritis kesuburan tanah pertanian nasional akibat rendahnya kandungan karbon organik.
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menyatakan bahwa total stok yang disiagakan saat ini telah melampaui ketentuan batas aman (safety stock) yang ditetapkan pemerintah. Dilansir dari gresiksatu.com, Jumat, (16/10/2026).
Rincian alokasi stok bersubsidi tersebut meliputi NPK Phonska sebesar 261.858 ton, Urea 95.645 ton, pupuk organik Petroganik 70.054 ton, SP-36 sebanyak 11.763 ton, serta ZA sebesar 4.116 ton.
"Paling utama kebutuhan petani itu tercukupi, tidak ada kendala apalagi pada saat musim tanam. Petani dapat mengoptimalkan stok pupuk bersubsidi ini sebaik-baiknya," ujar Daconi di Gresik, Jumat, (16/10/2026).
Di samping pemenuhan kuota pasokan, Petrokimia Gresik mengungkapkan temuan terkait kualitas lahan pertanian di Indonesia. Berdasarkan pengujian terhadap 40.282 sampel tanah di 27 provinsi yang dilakukan sejak 2016, sebanyak 91,9 persen sampel terindikasi memiliki kandungan karbon organik yang rendah.
Rendahnya karbon organik berdampak langsung pada penurunan kualitas fisik, kimia, dan biologi tanah, yang dalam jangka panjang dapat merusak daya dukung lahan terhadap produktivitas tanaman.
Menanggapi kondisi tersebut, Daconi menekankan pentingnya penerapan pola pemupukan berimbang yang menggabungkan pupuk organik dan anorganik secara proporsional.
"Pupuk yang tersedia harus dimanfaatkan secara tepat. Selain memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman, kita juga perlu menjaga kesehatan tanah agar tetap produktif. Penggunaan pupuk organik dan anorganik secara berimbang menjadi penting untuk keberlanjutan pertanian ke depan," jelasnya.
Guna mengedukasi petani, Petrokimia Gresik memperkenalkan formulasi pola pemupukan berimbang 5:3:2 untuk komoditas padi, yakni kombinasi 500 kg pupuk organik, 300 kg NPK, dan 200 kg Urea per hektare. Penerapan ini tetap disesuaikan dengan rekomendasi teknis dan karakteristik spesifik lahan setempat.
Untuk memastikan kelancaran distribusi selama musim tanam, perusahaan turut mengandalkan sistem digitalisasi rantai pasok terintegrasi. Tiga aplikasi utama yang dioptimalkan meliputi Warehouse Management System (WMS) untuk pengelolaan gudang, Sistem Scheduling Truk Online (SISTRO) untuk logistik darat, serta Petrokimia Gresik Port Information System (Petroport) untuk dermaga bongkar muat bahan baku.
Daconi menegaskan keberlanjutan pasokan dan efisiensi operasional menjadi prioritas utama perusahaan dalam menopang program ketahanan pangan nasional. (ivan)