Pada usia tanaman tujuh hari, petani memberi pupuk Phonska sebanyak 2 kilogram dan Urea 6 ons per petak. Pemupukan serupa diulang pada usia 15–21 hari. Selanjutnya, pada usia 30–35 hari, tanaman hanya diberi Urea sebanyak 1,5 kilogram per petak.
“Selanjutnya tinggal perawatan dan pengairan. Kalau sawah tadah hujan harus dijaga agar tidak kering. Kalau sawah lot dengan air stabil, relatif aman sampai panen usia 95–100 hari,” jelas Ketua Gapoktan Gelam tersebut.
Di Bawean, satu petak atau satu kolak memiliki luas sekitar 130–150 meter persegi. Dalam perhitungan petani setempat, 75 petak setara dengan satu hektare. Biaya produksi per kolak berkisar Rp250 ribu, mencakup pengolahan lahan, pembibitan, pupuk, hingga panen.