GRESIK, PustakaJC.co - Musim baratan mulai melanda perairan Gresik dan berdampak serius terhadap kehidupan nelayan. Angin kencang yang disertai gelombang tinggi membuat aktivitas melaut berisiko, sehingga banyak nelayan memilih tidak melaut demi keselamatan.
Kondisi tersebut langsung memukul perekonomian nelayan yang menggantungkan hidup dari hasil laut. Salah satunya dirasakan Khoirul Anas, nelayan asal Desa Banyuurip, Kecamatan Ujungpangkah. Dilansir dari gresiksatu.com, Jumat, (12/1/2026).
Khoirul mengatakan, pada musim baratan nelayan sangat membutuhkan kehadiran pemerintah, terutama melalui bantuan sosial untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari. Namun, bantuan yang diterima selama ini dinilai belum merata.
“Biasanya tahun-tahun sebelumnya saat musim baratan ada bantuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan. Tapi jumlahnya hanya sekitar lima sampai sepuluh paket sembako dan tidak mencukupi jumlah nelayan di Banyuurip,” ujar Khoirul, Jumat, (16/1/2026).
Ia menjelaskan, jumlah nelayan di Desa Banyuurip mencapai sekitar 400 hingga 500 orang. Dengan jumlah tersebut, bantuan terbatas jelas tidak mampu menjangkau seluruh nelayan terdampak. Bahkan, pada musim baratan tahun ini, bantuan tersebut tidak diterima sama sekali.
“Untuk tahun ini tidak ada bantuan dari pemerintah. Sementara kondisi nelayan semakin sulit. Untuk melaut saja kami harus berutang terlebih dahulu untuk membeli bahan bakar,” tuturnya.
Selain cuaca ekstrem, hasil tangkapan ikan juga menurun drastis akibat kondisi laut yang tidak menentu. Situasi ini semakin memperberat beban nelayan dan keluarganya.
“Kami berharap Pemerintah Kabupaten Gresik lebih memperhatikan kondisi nelayan. Hasil tangkapan sangat minim, bahkan untuk membeli solar kami harus berutang,” tambahnya.
Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Gresik, Muhammad Kurdi, menegaskan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga ketahanan ekonomi nelayan selama musim baratan berlangsung.
“Pemerintah perlu hadir. Untuk jangka pendek, solusi yang paling memungkinkan adalah pemberian bantuan sosial kepada nelayan yang terdampak musim baratan,” tegas Kurdi.
Menurutnya, musim hujan yang disertai angin barat kerap berlangsung selama beberapa minggu hingga berbulan-bulan. Kondisi tersebut membuat nelayan kehilangan sumber penghasilan utama.
“Pada saat musim hujan disertai angin seperti ini, nelayan benar-benar tidak bisa melaut. Otomatis penghasilan mereka terhenti,” ujarnya.
Kurdi juga mendorong pemerintah daerah menyiapkan program jangka panjang yang berkelanjutan, seperti pengembangan budidaya perikanan darat atau program pemberdayaan ekonomi alternatif yang tetap relevan dengan kehidupan nelayan.
“Harapannya, ketika musim baratan datang, nelayan masih bisa beraktivitas di sektor lain sehingga ketahanan ekonomi mereka tetap terjaga,” pungkasnya. (ivan)