SURABAYA, PustakaJC.co - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperketat standar pelayanan publik hingga level kecamatan dan kelurahan. Hal itu disampaikan Muhammad Fikser, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, saat talkshow Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat, (28/11/2025).
Menurut Fikser, para Camat kini dituntut oleh Wali Kota Eri Cahyadi untuk bekerja selevel “Wali Kota” di wilayah masing-masing. Dilansir dari suarasurabaya.net, Jumat, (28/11/2025).
“Camat–lurah benar-benar jadi Wali Kota Kecil. Pak Wali maunya begitu. Dia turun, dia keliling, dia mendengarkan aspirasi masyarakat,” ujar Fikser.
Fikser menegaskan jam kerja camat di Surabaya tidak hanya sebatas 07.30–16.00 WIB. Di lapangan, mereka bekerja hingga malam dan tidak mengenal hari libur.
“Kapan saja ditelepon warga, mereka datang. Apalagi situasi seperti sekarang yang cuaca sering mendung. Itu bentuk tanggung jawab,” jelasnya.
Seluruh ASN Pemkot Surabaya terikat pada Indikator Kinerja Individu (IKI) dan Indikator Kinerja Organisasi (IKO) yang langsung berpengaruh pada tambahan penghasilan dan evaluasi jabatan.
“Hari ini tidak bisa orang malas dan orang rajin pendapatannya sama. Tidak bisa,” tegas mantan Kasatpol PP tersebut.
Pemkot juga mewajibkan nomor telepon Camat, Lurah, hingga Kepala OPD dipublikasikan terbuka di website resmi pemerintah kota.
“Kita tidak takut nomor kita dibajak, selama kerja benar,” kata Fikser.
Proses rekrutmen camat dilakukan profesional dan terbuka. Para peserta menyusun janji kerja dan planning project yang dipresentasikan di hadapan panelis dari akademisi dan pakar.
Sebagian proses seleksi bahkan disiarkan langsung melalui YouTube Pemkot Surabaya.
Camat juga tidak boleh menjabat terlalu lama. Batas maksimalnya hanya 2,5 tahun di satu wilayah sebelum dimutasi.
“Dua tahun setengah itu paling lama. Jangan sampai terlalu lama sehingga inovasinya menurun,” ujar Fikser.
Aries menyebut tantangan terbesarnya adalah memahami seluruh kejadian di pusat kota yang sangat dinamis.
“Tantangannya adalah tahu segala hal yang terjadi di masyarakat,” ujarnya.
Rizal menyampaikan beratnya memberikan layanan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Tantangan di Pabean itu bagaimana kita bisa memberikan manfaat kepada warga,” ungkapnya.
Ia menggambarkan grup koordinasi wilayah yang selalu aktif tanpa henti.
“Grup ini hidup 24 jam. Bangun tidur pun sudah ada permasalahan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa camat harus siaga setiap saat, bahkan “daun jatuh” pun harus tahu.
Tambaksari menjadi wilayah dengan jumlah penduduk terbesar di Surabaya. Kondisi ini membuat tantangan semakin berat. (ivan)