1.214 Inovasi Dorong Penurunan Kemiskinan, Surabaya Dinobatkan Kota Terinovatif Nasional

surabaya | 16 Desember 2025 06:15

1.214 Inovasi Dorong Penurunan Kemiskinan, Surabaya Dinobatkan Kota Terinovatif Nasional
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappedalitbang) Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajad. (dok jatimpos)

SURABAYA, PustakaJC.co - Derap inovasi yang digerakkan Pemerintah Kota Surabaya bersama masyarakat terbukti berdampak nyata. Sepanjang 2025, sebanyak 1.214 inovasi berhasil mendorong penurunan kemiskinan sekaligus mengantarkan Kota Pahlawan meraih predikat Kota Terinovatif Tingkat Nasional dalam ajang Innovative Government Award (IGA) 2025.

 

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappedalitbang) Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajad, menyebut capaian tersebut merupakan hasil gotong royong seluruh elemen masyarakat. Dilansir dari jatimpos.co, Selasa, (16/12/2025).

 

“Penghargaan ini bukan hanya untuk Pemkot, tetapi juga warga Surabaya. Partisipasi masyarakat sangat luar biasa,” ujar Irvan, 

Sabtu, (13/12/2025).

 

 

Selain dinobatkan sebagai kota terinovatif, Surabaya juga meraih penghargaan sebagai daerah dengan sebaran inovasi urusan pemerintahan konkuren terbanyak se-Indonesia. Penghargaan tersebut diserahkan Kementerian Dalam Negeri pada puncak acara IGA 2025 di Jakarta, Rabu, (10/12/2025).

 

Dari total 1.214 inovasi, sebanyak 355 inovasi berasal dari Pemkot Surabaya, sementara sisanya lahir dari masyarakat, perguruan tinggi, SMA/SMK, serta komunitas. Jumlah tersebut menjadi yang terbanyak secara nasional.

 

Irvan menegaskan, inovasi tidak berhenti pada prestasi, tetapi berdampak langsung pada indikator sosial ekonomi. Angka kemiskinan Surabaya turun dari 5,23 persen menjadi 3,56 persen, tingkat pengangguran terbuka menurun dari 9,68 persen menjadi 4,84 persen, sementara Gini Rasio membaik dari 0,423 menjadi 0,381.

 

“Indikator ini menunjukkan inovasi yang kita jalankan benar-benar berdampak,” tegasnya.

 

 

 

Keberhasilan tersebut ditopang kebijakan One Data, One Map, One Policy, yang memastikan seluruh kebijakan Pemkot berbasis data. Dengan data yang terus diperbarui dan divalidasi hingga tingkat RT/RW, intervensi sosial dilakukan secara by name by address, sehingga lebih tepat sasaran.

 

“Berbasis data membuat penanganan kemiskinan jauh lebih presisi. Ini keunggulan Surabaya,” pungkas Irvan. (ivan)