Saat Kota Besar Bergelut dengan Banjir, Surabaya Diuntungkan Sistem Brantas

surabaya | 26 Januari 2026 06:19

Saat Kota Besar Bergelut dengan Banjir, Surabaya Diuntungkan Sistem Brantas
Pintu air Gubeng atau disebut juga Bendung Karet Gubeng mulai dibangun pada tahun 1843 dan tuntas pada tahun 1846. (dok suarasurabaya)

 

 

SURABAYA, PustakaJC.co – Pengamat tata kota sekaligus jurnalis senior, Tjuk Suwarono, menegaskan bahwa tidak ada satu pun kota besar di dunia yang sepenuhnya bebas dari banjir. Menurutnya, perbedaan utama antarkota terletak pada kualitas manajemen sungai dan sistem drainase, apakah banjir dapat dikendalikan atau justru menjadi bencana yang berulang.

 

Dalam analisanya, Tjuk mencontohkan Tokyo, Jepang, sebagai salah satu kota dengan sistem pengendalian banjir paling maju di dunia. Kota megapolitan tersebut membangun jaringan drainase raksasa bawah tanah yang dikenal sebagai Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channelatau G-Cans. Dilansir dari suarasurabaya.net, Senin, (26/1/2026).

 

“Terowongan raksasa itu berada di kedalaman sekitar 25,4 meter atau setara gedung enam lantai,” tulis Tjuk. 

 

Sistem tersebut mulai dibangun pada 1993 dan rampung pada 2006, dengan biaya sekitar Rp36 triliun, berfungsi menahan limpahan air dari sungai-sungai yang melintasi Tokyo.