Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya Jadi Magnet Gen Z Tarawih, Spot Estetik dan Imam Muda Jadi Daya Tarik

surabaya | 20 Februari 2026 04:22

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya Jadi Magnet Gen Z Tarawih, Spot Estetik dan Imam Muda Jadi Daya Tarik
KH M Sudjak penceramah kegiatan ngaji ngabuburit saat menyampaikan tema berjudul “marhaban ya ramadan” di Masjid Al-Akbar Surabaya. (dok suarasurabaya)

SURABAYA, PustakaJC.co – Fenomena baru terlihat di Surabaya. Masjid tak lagi sekadar tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang yang mampu menarik generasi Z untuk datang, beribadah, sekaligus mendokumentasikan momen spiritual mereka.

 

Ketua Badan Pelaksana Pengelola (BPP) masjid, KH. M Sudjak, mengungkapkan pengelola sengaja menghadirkan berbagai fasilitas dan spot estetik untuk mendekatkan generasi muda dengan masjid, khususnya selama Ramadan. Dilansir dari suarasurabaya.net, Jumat, (20/2/2026).

 

“Tantangan terbesar masjid-masjid di Jawa Timur adalah bagaimana merangkul anak-anak muda agar cinta masjid. Orang tua sudah pasti ke masjid, tapi generasi muda ini harus kita tarik dengan pendekatan yang tepat,” ujar Sudjak, Kamis, (19/2/2026).

 

 

 

Ia menjelaskan, berbagai elemen visual seperti taman, air mancur, hingga area pameran sejarah masjid menjadi daya tarik tersendiri. Fenomena “ibadah sambil ngonten” justru dipandang sebagai peluang untuk mempererat hubungan generasi muda dengan masjid.

 

Upaya tersebut menunjukkan hasil. Meski sempat diguyur hujan, jumlah jemaah Tarawih tetap membludak, bahkan mencapai lebih dari 5.000 orang dalam satu malam.

 

“Alhamdulillah, jamaahnya tetap banyak. Ini menunjukkan masjid menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Timur, bukan hanya warga Surabaya,” tambahnya.

 

 

 

Selain fasilitas, pengelola juga menghadirkan imam dari berbagai generasi, termasuk imam muda, sebagai bagian dari strategi pendekatan yang lebih relevan dengan generasi sekarang.

 

Salah satu pengunjung, Diyah Ayu Prahmawardhani (17), mengaku terkesan dengan kemegahan dan kenyamanan masjid saat pertama kali berkunjung.

 

“Masjidnya besar banget, nyaman, dan ramai. Ini pertama kali saya ke sini dan ingin datang lagi,” katanya.

 

 

Senada, Citra Artika Tiffani (19) menyebut banyak spot estetik yang membuat pengalaman ibadah terasa lebih berkesan.

 

“Bagus, besar, mewah, dan cantik. Saya sudah ambil foto dan video juga,” ujarnya.

 

Fenomena ini menandai pergeseran penting. Masjid kini bukan hanya ruang ibadah, tetapi juga ruang interaksi spiritual yang mampu menjangkau generasi baru—membuktikan bahwa pendekatan adaptif menjadi kunci menjaga masjid tetap hidup di tengah perubahan zaman. (ivan)