Pintu Air Jagir, Benteng Pengendali Banjir Surabaya Sejak Era Kolonial

surabaya | 14 April 2026 12:48

Pintu Air Jagir, Benteng Pengendali Banjir Surabaya Sejak Era Kolonial
Pintu Air Jagir menjadi salah satu pengendali banjir di Surabaya. (dok radarsurabaya)

 

SURABAYA, PustakaJC.co – Pintu Air Jagir menjadi salah satu infrastruktur vital yang berperan penting dalam sistem pengendalian banjir di Kota Surabaya. Bangunan yang terletak di kawasan Jagir ini telah berdiri sejak akhir abad ke-19 pada masa Hindia Belanda dan terus mengalami perkembangan hingga saat ini. Selasa, (14/4/2026).

“Ketika musim hujan dan air laut pasang atau terjadi rob, tanpa Pintu Air Jagir, Surabaya berpotensi tergenang. Ini menjadi salah satu bentuk mitigasi bencana sejak zaman Hindia Belanda,” jelasnya. Demikian dikutip dari surabaya.jawapos.com, Selasa, (14/4/2026).

Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nur Setiawan, mengungkapkan bahwa awal keberadaan Pintu Air Jagir hanya berupa bendungan sederhana atau dam. Seiring meningkatnya kebutuhan pengelolaan air, pemerintah kolonial kemudian melakukan pembangunan lanjutan pada tahun 1917 yang menghasilkan struktur lebih tinggi, kokoh, dan dirancang untuk penggunaan jangka panjang.

Fungsi utama pintu air ini adalah mengontrol aliran dari Kali Surabaya yang merupakan bagian dari Sungai Brantas. Debit air yang kerap meningkat, terutama saat musim hujan, menjadikan keberadaan Pintu Air Jagir sangat krusial dalam mencegah potensi banjir.

Menurut Nur Setiawan, tanpa keberadaan pintu air tersebut, Surabaya berisiko mengalami genangan, terutama saat curah hujan tinggi berbarengan dengan air laut pasang atau rob. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem mitigasi bencana telah diterapkan sejak masa kolonial.

Tak hanya berfungsi sebagai pengendali air, kawasan sekitar Jagir juga memiliki nilai historis. Lokasi ini menjadi salah satu titik perlawanan arek-arek Suroboyo dalam Pertempuran 10 November 1945, di mana para pejuang membangun barikade dan terlibat baku tembak dengan tentara Sekutu.

“Di sekitar Pintu Air Jagir pernah terjadi perlawanan. Para pejuang membuat barikade dan terjadi baku tembak dengan tentara Sekutu,” tambahnya.

Selain aspek sejarah, kawasan Jagir sejak dahulu dikenal sebagai pusat aktivitas ekonomi. Letaknya yang berdekatan dengan Pasar Wonokromo serta akses transportasi yang memadai menjadikan wilayah ini sebagai jalur perdagangan strategis yang terus berkembang hingga kini.

“Jalan Jagir tidak bisa dilepaskan dari dua pilar utama, yaitu ekonomi dan pembangunan. Sejak dulu kawasan ini sudah menjadi denyut aktivitas warga,” ungkap Wawan.

Dengan peran ganda sebagai infrastruktur pengendali banjir dan saksi sejarah perjuangan, Pintu Air Jagir menjadi salah satu aset penting yang mencerminkan perkembangan Kota Surabaya dari masa ke masa. (frcn)