Ancaman Diam di Balik Aliran Air Surabaya

surabaya | 18 April 2026 06:35

Ancaman Diam di Balik Aliran Air Surabaya
Direktur Eksekutif Pusaka Air Indonesia (Pusat Studi dan Analisa Kebijakan Air Indonesia) Arief Wisnu Cahyono. (dok antara)

SURABAYA, PustakaJC.co – Di balik derasnya aliran air yang selama ini menopang kehidupan warga, Surabaya menyimpan ancaman serius yang kerap luput dari perhatian. Kota ini ternyata sangat bergantung pada satu sumber air utama, yakni Sungai Brantas melalui Kali Surabaya.

 

Lebih dari 90 persen kebutuhan air bersih kota dipasok dari aliran tersebut. Kondisi ini dinilai bukan sekadar ketergantungan biasa, melainkan potensi risiko besar jika terjadi gangguan. Dilansir dari antaranews.com, Sabtu, (18/4/2026).

 

Direktur Eksekutif Pusaka Air Indonesia, Arief Wisnu Cahyono, menegaskan bahwa situasi ini merupakan “titik kegagalan” dalam sistem penyediaan air kota.

 

Ketika satu sumber terganggu, maka seluruh sistem ikut terdampak. Surabaya belum memiliki ruang adaptasi yang cukup.

 

 

 

Tekanan dari Hulu ke Hilir

 

Masalah tidak hanya datang dari sisi pasokan, tetapi juga kualitas air. Dalam beberapa tahun terakhir, debit Sungai Brantas mengalami penurunan signifikan. Bahkan pada 2024, inflow Bendungan Sutami tercatat sebagai yang terendah dalam lima tahun terakhir.

 

Penurunan debit ini berbanding lurus dengan memburuknya kualitas air. Kandungan pencemar seperti amonia, nitrit, dan limbah organik meningkat, membuat proses pengolahan air menjadi lebih sulit dan mahal.

 

Air yang masuk ke instalasi pengolahan di Surabaya pun merupakan akumulasi dari aktivitas lebih dari 20 wilayah yang dilalui sungai, mulai dari limbah domestik, industri, hingga pertanian.

 

 

Konsumsi Tinggi, Tekanan Meningkat

 

Di sisi lain, konsumsi air warga Surabaya tergolong tinggi. Rata-rata penggunaan mencapai 195 hingga 200 liter per orang per hari, melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 150 liter.

 

Tingginya konsumsi ini mencerminkan layanan yang baik, namun sekaligus memperbesar tekanan terhadap sistem penyediaan air yang sudah terbatas.

 

PAM Hadapi Tantangan Ganda

 

Perumda Air Minum Surya Sembada kini berada di posisi yang tidak mudah. Di satu sisi harus memastikan layanan tetap berjalan untuk ratusan ribu pelanggan, di sisi lain harus mengolah air baku dengan kualitas yang terus menurun.

 

Meski pengembangan infrastruktur seperti IPA Karangpilang IV telah dilakukan dengan teknologi lebih efisien, kondisi air sungai yang semakin tercemar membuat biaya operasional dan risiko teknis ikut meningkat.

 

 

 

Minim Sumber Alternatif

 

Saat ini, sekitar 93 persen pasokan air Surabaya masih bergantung pada Sungai Brantas. Sumber alternatif seperti Umbulan hanya menyumbang porsi kecil.

 

Kondisi ini membuat Surabaya rentan. Jika terjadi pencemaran berat atau kekeringan ekstrem, dampaknya bisa meluas dan sulit ditangani dalam waktu singkat.

 

Potensi Air Limbah Terabaikan

 

Di tengah tekanan tersebut, pemanfaatan air limbah sebagai sumber alternatif masih belum optimal. Padahal, di banyak kota besar dunia, air limbah telah diolah kembali menjadi sumber air kedua.

 

Di Surabaya, sebagian besar limbah domestik justru terbuang tanpa pemanfaatan yang maksimal.

 

 

Peringatan untuk Masa Depan

 

Arief menegaskan bahwa kondisi Surabaya merupakan peringatan serius bagi pengelolaan air perkotaan.

 

“Krisis air bukan soal apakah akan terjadi, tetapi kapan. Dan ketika itu terjadi, tidak ada solusi instan,” tulisnya di antara.

 

Ia mendorong adanya perubahan strategi melalui diversifikasi sumber air, efisiensi penggunaan, serta pengelolaan air yang terintegrasi dan berkelanjutan.

 

 

 

 

Saat ini, air masih mengalir dan layanan masih berjalan normal.

 

Namun di balik itu, ancaman terus tumbuh secara perlahan.

 

Surabaya dihadapkan pada satu pilihan: bertahan dengan ketergantungan, atau mulai membangun sistem air yang lebih tangguh.

 

Karena pada akhirnya, masa depan kota tidak ditentukan oleh besarnya sungai, melainkan oleh cara mengelolanya. (ivan)