Pendekatan melalui cerita dinilai lebih efektif karena dekat dengan dunia anak. Nilai lokal seperti “wani” (berani) dan gotong royong turut diperkenalkan sebagai bagian dari pembentukan karakter.
“Wani” tidak hanya dimaknai sebagai keberanian fisik, tetapi juga keberanian berpikir, berbicara, dan mengambil peran. Hal ini sejalan dengan semangat Kartini yang mendorong perempuan untuk keluar dari keterbatasan.
Capaian pendidikan di Surabaya juga menunjukkan perkembangan positif. Di sejumlah wilayah, angka anak usia 5–6 tahun yang belum bersekolah telah mencapai nol persen. Ini menjadi indikator bahwa akses pendidikan semakin merata.