Difabel Surabaya Berkarya Lewat Seni, IKD Jadi Rumah Tumbuh dan Harapan

surabaya | 24 Mei 2026 12:12

Difabel Surabaya Berkarya Lewat Seni, IKD Jadi Rumah Tumbuh dan Harapan
Salah satu anggota rumah singgah Istana Karya Difabel (IKD) dengan teliti memilah dan mengemas bahan-bahan herbal untuk pembuatan wedang uwuh di rumah singgah IKD, kawasan Balas Klumprik, Wiyung, Surabaya. (dok antara)

SURABAYA, PustakaJC.co — Semangat kemandirian penyandang disabilitas di Kota Surabaya terus tumbuh melalui komunitas Istana Karya Difabel (IKD). Berawal dari panggung musik sederhana, komunitas ini kini berkembang menjadi ruang pemberdayaan seni sekaligus rumah singgah bagi difabel yang membutuhkan tempat tinggal dan dukungan hidup.

 

Pendiri IKD, Andy Setiawan atau Andy Elektrik, mengatakan gagasan tersebut muncul setelah dirinya melihat langsung kemampuan seorang anak tunanetra memainkan piano di Sentra Wisata Kuliner (SWK) Arif Rahman Hakim Surabaya pada 2019. Dilansir dari antaranews.com, Minggu, (24/5/2026).

 

“Saat itu saya mengajak anak tunanetra tersebut latihan musik di studio rekaman milik saya. Dari situ lahir enam lagu, lalu teman-temannya ikut tertarik belajar hingga akhirnya berkembang seperti sekarang,” ujarnya.

 

 

 

Komunitas yang resmi berdiri pada 2 Juli 2020 itu kini membina sekitar 50 anak difabel aktif di bidang seni, mulai musik, tari, hingga lukis. Mereka berasal dari berbagai latar belakang disabilitas seperti tunanetra, tuli, autisme, down syndrome, hingga tuna daksa.

 

Latihan rutin biasanya digelar di Taman Flora Surabaya. Suasana hangat terlihat ketika anak-anak berkumpul membawa alat musik, perlengkapan melukis, hingga kostum tari sambil didampingi relawan.

 

Tak hanya mengembangkan bakat seni, IKD juga telah merilis album lagu bertajuk karya anak-anak binaan. Salah satu lagu yang cukup dikenal berjudul Terang dalam Gulita.

 

Selain menjadi ruang kreativitas, IKD juga berkembang menjadi rumah singgah bagi penyandang disabilitas yang mengalami kesulitan ekonomi maupun tidak memiliki tempat tinggal.

 

 

 

Rumah singgah yang berada di kawasan Balas Klumprik, Wiyung, Surabaya itu kini dihuni sekitar 12 orang, mulai penyintas stroke, penyandang amputasi, hingga difabel yatim piatu.

 

“Rumah ini kami siapkan agar teman-teman difabel tetap punya tempat pulang dan bisa hidup bersama secara layak,” kata Andy.

 

Untuk memenuhi kebutuhan operasional rumah singgah, komunitas tersebut memproduksi kopi dan wedang uwuh bersama para penghuni difabel. Produk itu dipasarkan sebagai bentuk usaha mandiri sekaligus donasi sosial.

 

Wedang uwuh dijual Rp50 ribu per paket isi 10 sachet, sementara kopi dibanderol Rp25 ribu per 250 gram.

 

“Akhirnya kami berpikir bagaimana caranya tetap bisa bayar listrik, air, dan makan sehari-hari. Maka kopi dan wedang uwuh ini kami jual. Jadi membeli produk kami sama dengan berdonasi,” ujarnya.

 

 

 

Meski telah meraih berbagai prestasi seni, Andy mengaku dukungan pemerintah masih minim. Berbagai kebutuhan kegiatan, termasuk biaya transportasi dan perlombaan, selama ini ditanggung secara mandiri oleh komunitas.

 

Meski demikian, Andy berharap IKD dapat terus menjadi ruang pemberdayaan bagi difabel agar mampu tumbuh, berkarya, dan diterima di tengah masyarakat tanpa dipandang sebelah mata. (ivan)