SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah Kota Surabaya menargetkan Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya menjadi laboratorium mangrove bertaraf dunia dengan melengkapi seluruh koleksi 245 spesies mangrove yang ada di Indonesia. Target tersebut diharapkan memperkuat posisi Surabaya sebagai pusat riset, konservasi, edukasi, hingga wisata mangrove terbesar di Tanah Air.
Kepala UPT Kebun Raya Mangrove Surabaya Dian Prasetyaningtyas mengatakan, pengembangan tersebut sejalan dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Kebun Raya yang menegaskan fungsi kebun raya sebagai pusat konservasi, penelitian, edukasi, wisata, dan jasa lingkungan.
Menurutnya, saat ini Kebun Raya Mangrove Surabaya telah memiliki 74 spesies mangrove atau hampir 30 persen dari total 245 spesies mangrove yang terdapat di Indonesia. Capaian tersebut menjadikan KRM sebagai satu-satunya kebun raya tematik mangrove di Indonesia.
"Targetnya adalah bagaimana kita menjadikan Kebun Raya Mangrove Surabaya sebagai laboratorium mangrove dunia. Harapannya seluruh 245 spesies mangrove yang ada di Indonesia dapat dikoleksi di Kebun Raya Mangrove Surabaya," ujar Dian dalam program Semanggi Suroboyo Radio Suara Surabaya, Jumat (26/6).
Ia menjelaskan, sejak berada di bawah koordinasi Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya, penguatan fungsi penelitian semakin menjadi prioritas. Penambahan koleksi spesies terus dilakukan agar kawasan tersebut mampu menjadi pusat pembelajaran dan penelitian mangrove bertaraf internasional.
Selain memiliki kekayaan flora, kawasan mangrove juga menjadi habitat berbagai satwa, mulai sekitar 35 jenis burung, biawak, kupu-kupu, kepiting pemanjat pohon, hingga kucing bakau yang tergolong langka.
Dian menyebut keberadaan kucing bakau yang ditemukan melalui penelitian akademisi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menjadi indikator penting bahwa ekosistem mangrove di kawasan tersebut masih terjaga dengan baik.
"Kucing bakau hidup secara liar sehingga tidak mudah dikembangbiakkan. Keberadaannya justru menunjukkan kualitas ekosistem mangrove yang masih alami," katanya.
Sementara itu, Kepala BRIDA Kota Surabaya Agus Imam Sonhaji menilai tingkat keanekaragaman hayati menjadi indikator utama kualitas sebuah kebun raya. Karena itu, pihaknya terus mendorong peningkatan jumlah koleksi mangrove agar Surabaya memiliki pusat konservasi yang diakui dunia.
Menurut Agus, Surabaya memiliki peluang besar menjadi rujukan internasional dalam pembelajaran mangrove karena belum banyak kebun raya tematik mangrove yang memiliki koleksi lengkap.
"Kita memiliki potensi menjadi yang terbaik di dunia. Jika ingin belajar mengenai mangrove, datanglah ke Surabaya. Itu mimpi besar yang sedang kita bangun," ujarnya.
Ia menambahkan, Kebun Raya Mangrove kini juga dikembangkan sebagai living laboratory yang dimanfaatkan berbagai perguruan tinggi untuk kegiatan penelitian. Sejumlah kampus seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, hingga Universitas Negeri Surabaya (Unesa) telah diarahkan menjadikan kawasan tersebut sebagai lokasi riset.
Dengan penguatan fungsi konservasi, penelitian, edukasi, wisata, dan kolaborasi akademik, Kebun Raya Mangrove Surabaya diharapkan mampu menjadi pusat inovasi mangrove yang memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus pelestarian ekosistem pesisir Indonesia. (int)