Menurut Agung, pelanggan datang dari berbagai daerah seperti Malang, Mojokerto, Sidoarjo, hingga Surabaya, khususnya saat momen berbuka puasa.
Ia menegaskan, kunci bertahan selama hampir tiga dekade adalah menjaga konsistensi rasa, menggunakan bahan berkualitas, serta mempertahankan standar kebersihan dan kehalalan.
“Yang terpenting adalah konsistensi cita rasa dan kepercayaan pelanggan. Itu yang membuat kami masih bertahan sampai sekarang,” tegasnya.
Kuliner legendaris ini menjadi bukti bahwa cita rasa autentik dan loyalitas pelanggan mampu menjaga eksistensi usaha, meski zaman terus berubah. (ivan)