Bubur Suro, Tradisi Penuh Makna yang Tetap Lestari di Bulan Muharram

kuliner | 24 Juni 2026 09:59

Bubur Suro, Tradisi Penuh Makna yang Tetap Lestari di Bulan Muharram
(dok inforadar)

SURABAYA, PustakaJC.co – Memasuki bulan Muharram atau yang dikenal masyarakat Jawa sebagai bulan Suro, berbagai tradisi kembali dijalankan di sejumlah daerah. Salah satu yang masih lestari hingga kini adalah tradisi membuat dan membagikan bubur suro sebagai simbol rasa syukur sekaligus doa untuk keselamatan.

Bubur suro merupakan sajian khas yang kerap dihidangkan saat malam 1 Suro maupun menjelang 10 Muharram. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan masih dapat dijumpai di berbagai wilayah Jawa, terutama dalam kegiatan keagamaan maupun kebudayaan masyarakat.

Sejumlah sumber menyebutkan tradisi bubur suro telah berkembang sejak masa pemerintahan Sultan Agung. Saat itu, bubur suro menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa dalam menyambut pergantian tahun dan memanjatkan harapan akan keberkahan hidup di masa mendatang.

Selain dikaitkan dengan tradisi Jawa, bubur suro juga memiliki keterkaitan dengan kisah Nabi Nuh AS. Dalam sejumlah literatur Islam disebutkan bahwa makanan tersebut menjadi simbol rasa syukur atas keselamatan setelah banjir besar yang melanda pada masa Nabi Nuh.

Budayawan Jawa menjelaskan bahwa bubur suro bukanlah sesajen, melainkan bagian dari ubarampe atau perlengkapan tradisi yang sarat makna spiritual dan sosial. Karena itu, tradisi membagikan bubur suro lebih dimaknai sebagai bentuk sedekah serta ungkapan syukur kepada Allah SWT.

Makna simbolis bubur suro juga tercermin dari bahan-bahan yang digunakan. Salah satunya adalah penggunaan aneka jenis kacang yang melambangkan harapan akan keberkahan dan kelancaran hidup sepanjang waktu.

Secara umum, bubur suro dibuat dari beras yang dimasak bersama santan hingga menjadi bubur gurih. Hidangan tersebut kemudian disajikan dengan kuah kuning berbahan ayam serta aneka pelengkap seperti perkedel, tahu goreng, telur iris, kacang goreng, kerupuk, dan bawang goreng.

Hingga kini, tradisi bubur suro masih menjadi bagian dari peringatan Tahun Baru Islam di berbagai daerah. Selain menjaga warisan budaya, tradisi tersebut juga menjadi sarana mempererat kebersamaan masyarakat melalui kegiatan berbagi makanan dan doa bersama.

Bagi masyarakat Jawa, bubur suro bukan sekadar hidangan tradisional, tetapi juga pengingat akan pentingnya rasa syukur, kepedulian sosial, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru. (nov)