SURABAYA, PustakaJC.co - Sajian bubur di Indonesia tidak hanya didominasi oleh olahan gurih seperti bubur ayam. Di berbagai daerah, khususnya di Pulau Jawa, olahan bubur bercita rasa manis atau yang populer dikenal sebagai jenang memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat dan kerap menjadi incaran utama saat sarapan.
Kehadiran bubur manis di Nusantara memiliki akar sejarah dan budaya yang kuat. Sejarawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Heri Priyatmoko, menjelaskan bahwa jenang sejak zaman dahulu menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual adat dan selamatan. Salah satu contohnya adalah Jenang Procot, yang dibuat secara khusus untuk mendoakan keselamatan ibu dan bayi saat usia kandungan memasuki bulan kesembilan. Dilansir dari kumparan.com, Rabu, (16/9/2026).
Kepopuleran bubur manis juga didukung oleh proses pembuatan dan penyajiannya yang relatif sederhana. Menggunakan bahan dasar utama seperti tepung beras atau ketan, santan, serta pemanis gula merah, sajian ini sangat praktis untuk diolah dalam skala besar guna dibagikan kepada masyarakat dalam berbagai acara tradisi.
Seiring berjalannya waktu, tradisi ini meluas dan melahirkan beragam variasi bubur manis khas di berbagai daerah. Berikut adalah lima jenis bubur manis tradisional yang populer di Indonesia:
- Bubur Sumsum: Dikenal sebagai salah satu varian tertua dalam tradisi Jawa, memiliki tekstur putih yang lembut dengan perpaduan rasa gurih santan dan manisnya kuah gula jawa.
- Bubur Candil: Berbentuk bulatan kecil kenyal yang terbuat dari tepung ketan atau campuran ubi manis, disajikan bersama siraman kuah santan.
- Bubur Jagung Manis: Mengolah bulir jagung segar yang dimasak bersama santan, gula, dan daun pandan, menghasilkan aroma khas serta kaya akan serat.
- Bubur Sagu Mutiara: Menggunakan butiran sagu mutiara yang direbus hingga transparan dan kenyal, kerap dipadukan dengan santan atau campuran es dan kolak.
- Bubur Lemu Pandan: Memiliki kemiripan tekstur dengan bubur sumsum, namun berwarna hijau pandan dan kerap disajikan dengan pelengkap seperti irisan nangka atau sagu mutiara.
Kesederhanaan bahan dan kekayaan nilai historis menjadikan bubur manis tetap bertahan sebagai salah satu kekayaan kuliner tradisional yang terus digemari lintas generasi. (ivan)