Surabaya, PustakaJC.co - Dalam kehidupan sehari-hari, curhat atau berbagi cerita menjadi salah satu cara untuk meringankan beban pikiran. Namun, pernahkah kamu merasa kelelahan setelah mendengar seseorang menceritakan pengalaman traumatisnya secara tiba-tiba dan mendalam? Mungkin kamu sedang menjadi sasaran trauma dumping.
Mengenal Trauma Dumping
Trauma dumping adalah tindakan mencurahkan pengalaman traumatis atau persoalan pribadi secara tiba-tiba, intens, dan tanpa mempertimbangkan kesiapan pendengar. Berbeda dari curhat sehat yang bersifat saling terbuka dan dilakukan dalam situasi yang disepakati bersama, trauma dumping cenderung sepihak dan bisa membebani orang yang mendengarnya secara emosional.
Pelaku trauma dumping biasanya tidak menyadari bahwa caranya berbagi cerita bisa menimbulkan tekanan mental baru bagi orang lain.
Mengapa Seseorang Melakukan Trauma Dumping?
Ada beberapa faktor yang mendorong seseorang melakukan trauma dumping, antara lain:
1. Belum berhasil mengolah luka batin
Mereka yang belum benar-benar sembuh dari traumanya cenderung menceritakan pengalaman pahit secara impulsif kepada siapa pun yang tampak bersedia mendengar.
2. Minimnya dukungan emosional
Rasa kesepian atau tidak memiliki tempat aman untuk bicara bisa membuat seseorang melepaskan emosinya secara mendadak.
3. Tidak memahami batasan pribadi
Tak semua orang paham kapan, di mana, dan kepada siapa mereka bisa berbagi cerita yang berat secara tepat.
4. Butuh pengakuan atau pelampiasan
Kadang, trauma dumping menjadi cara mencari simpati atau pelarian dari luka emosional yang tak terselesaikan.
Dampak Trauma Dumping bagi Kesehatan Mental
Meskipun sekilas terlihat melegakan, trauma dumping justru bisa memperparah kondisi emosional pelakunya. Mengulang cerita menyakikan tanpa pendampingan profesional bisa memperdalam luka batin.
Sementara itu, bagi pendengarnya, trauma dumping bisa menimbulkan:
- Rasa lelah secara emosional
- Kebingungan atau rasa bersalah karena tak tahu harus merespons bagaimana
- Ketidaknyamanan hingga kecemasan
- Retaknya hubungan sosial atau personal
Jika berlangsung terus-menerus, trauma dumping bisa merusak kepercayaan dalam hubungan pertemanan, keluarga, bahkan profesional.
Solusinya?
Curhat tentu sah-sah saja, tapi penting untuk melakukannya dengan kesadaran dan empati. Pastikan orang yang diajak bicara memang siap mendengar dan berada dalam kondisi yang tepat. Bila merasa beban terlalu berat, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog atau konselor. (nov)