Industri Mode Jatim Menatap 2026 dengan Gaya Elegan dan Fungsional

gaya hidup | 16 Januari 2026 19:22

Industri Mode Jatim Menatap 2026 dengan Gaya Elegan dan Fungsional
Tren Fashion 2026. (dok kompas)

SURABAYA, PustakaJC.co – Industri mode di Jawa Timur mulai menata arah tren busana 2026. Nuansa elegan melalui dominasi warna gelap, kembalinya motif klasik, serta desain busana yang lebih ringan dan fungsional diprediksi menjadi kecenderungan utama.

 

Arah tren tersebut tercermin dalam gelaran East Java Fashion Tendance (EJFT) 2026 bertema Re-Imagine yang diinisiasi Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Jawa Timur dan digelar di Surabaya, Rabu, (14/1/2026).

 

Ketua APPMI Jatim, Lia Afif, menyampaikan bahwa tren busana tahun depan tetap mengusung kesan elegan, namun lebih adaptif terhadap gaya hidup masyarakat yang dinamis. Warna-warna gelap seperti navy blue dan cokelat tua masih mendominasi, dipadukan dengan kekayaan wastra nusantara sebagai identitas mode Indonesia. Dilansir dari kompas.com, Jumat, (16/1/2026).

 

“Warna gelap masih kuat, wastra tetap digunakan, tetapi desainnya lebih fleksibel dan mudah dipakai,” ujar Lia.

 

 

 

Selain permainan warna, motif klasik kembali mendapat tempat. Motif bunga, kotak-kotak, hingga material denim kembali diminati, bersanding dengan warna-warna lembut yang memberi kesan modern dan ringan.

 

Tren tersebut juga merambah busana Lebaran 2026. Sejumlah desainer mulai menghadirkan koleksi yang tak hanya cocok untuk momen ibadah, tetapi juga nyaman digunakan untuk aktivitas harian maupun acara formal.

 

“Busana Lebaran sekarang tidak terpaku satu gaya. Ada yang simpel untuk harian, ada juga yang formal untuk acara tertentu, semuanya tetap sopan dan nyaman,” jelasnya.

 

 

Menurut Lia, perubahan tren mode sejatinya bersifat berulang. Perbedaannya terletak pada pengolahan warna dan siluet yang disesuaikan dengan konteks zaman.

 

“Tren itu berputar. Dulu oversize sempat ramai, sekarang muncul lagi. Motif kotak-kotak juga kembali, tapi dengan pendekatan yang berbeda,” katanya.

 

Di sisi lain, isu sustainable fashion juga menjadi perhatian para perancang. Lia menegaskan, konsep keberlanjutan tidak selalu berarti menggunakan bahan bekas, melainkan bagaimana material—termasuk bahan baru—diolah secara kreatif agar memiliki umur pakai lebih panjang.

 

“Keberlanjutan itu soal cara mengolah dan memanfaatkan bahan secara bertanggung jawab,” pungkasnya. (ivan)