Psikolog Unair Soroti Tren Gugatan Cerai Istri di Surabaya

gaya hidup | 22 Januari 2026 19:35

Psikolog Unair Soroti Tren Gugatan Cerai Istri di Surabaya
Ilustrasi perceraian suami dan istri. (dok jawapos)

SURABAYA, PustakaJC.co – Tren gugatan cerai yang diajukan oleh pihak istri masih mendominasi perkara perceraian di Kota Surabaya. Sepanjang 2025, Pengadilan Agama (PA) Surabaya mencatat sebanyak 6.080 perkara perceraian, dengan 4.469 di antaranya merupakan gugatan cerai dari pihak istri. Alasan yang melatarbelakangi pun beragam, mulai persoalan ekonomi, perselingkuhan, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

 

Psikolog Universitas Airlangga (Unair), Atika Dian Ariana, menilai fenomena tersebut tidak dapat dipahami secara sederhana. Menurutnya, keputusan perempuan untuk menggugat cerai dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkaitan, bukan semata persoalan finansial. Dilansir dari jawapos.com, Kamis, (22/1/2026).

 

“Perceraian itu proses yang kompleks. Bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan perempuan dalam mengambil keputusan untuk dirinya sendiri,” ujar Atika, Kamis, (22/1/2026).

 

 

Ia menjelaskan, kemandirian ekonomi dan latar belakang pendidikan turut berperan dalam meningkatnya keberanian perempuan untuk mengakhiri pernikahan yang dinilai tidak sehat. Perempuan yang memiliki pendidikan dan penghasilan, kata Atika, cenderung tidak lagi bergantung secara finansial sehingga memiliki ruang lebih besar untuk menentukan pilihan hidupnya.

 

“Ketika perempuan tidak lagi khawatir soal pemenuhan kebutuhan ekonomi atau pengasuhan anak setelah berpisah, mereka lebih berani bertindak. Pendidikan dan ekonomi memberi daya tawar dalam pengambilan keputusan,” jelasnya.

 

Meski demikian, Atika menegaskan bahwa tingginya angka gugatan cerai tidak bisa digeneralisasi hanya dari satu faktor. Setiap rumah tangga memiliki dinamika dan permasalahan yang berbeda.

 

 

Selain faktor internal keluarga, pengaruh media sosial juga dinilai ikut mendorong munculnya konflik rumah tangga. Atika menyebut, tidak sedikit pasangan muda yang terjebak pada perbandingan sosial dengan kehidupan ideal yang ditampilkan di media sosial.

 

“Ketika pasangan membandingkan kehidupannya dengan apa yang dilihat di media sosial tanpa sikap kritis, bisa muncul ketidakpuasan yang tidak proporsional. Ini berpotensi memperbesar konflik dalam rumah tangga,” pungkasnya. (ivan)