Rupiah Tertekan Akibat Ketidakpastian Global, Penutupan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran

gaya hidup | 25 Maret 2026 15:15

Rupiah Tertekan Akibat Ketidakpastian Global, Penutupan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran
Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta. (dok Jawapos)

JAKARTA. PustakaJC.co – Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Rabu pagi, seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat masih ditutupnya Selat Hormuz. Mata uang Garuda tercatat turun 22 poin atau 0,13 persen menjadi Rp16.920 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.898 per dolar AS. 

 

 

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen pasar yang cenderung “risk off”. Kondisi ini dipicu lonjakan harga minyak dunia dan ketidakpastian geopolitik yang belum mereda.

 

 

“Investor masih berhati-hati memantau perkembangan karena harga minyak tetap tinggi dan Selat Hormuz belum dibuka,” ujarnya. Demikian dikutip dari jatim.antaranews.com, rabu, (25/3/2026). 

 

 

Situasi di kawasan Timur Tengah memanas setelah konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memicu gangguan distribusi energi global. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital pengiriman minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia ke berbagai negara.

 

 

Penutupan jalur tersebut berdampak langsung terhadap pasokan energi, mendorong harga minyak dunia tetap tinggi. Saat ini, harga minyak jenis WTI berada di kisaran 88 dolar AS per barel, sementara Brent menyentuh 98 dolar AS per barel.

 

 

Meski demikian, terdapat secercah harapan meredanya konflik. Donald Trump dilaporkan menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari, menyusul komunikasi yang disebut berlangsung produktif.

 

 

Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menegaskan tidak ada negosiasi dengan pihak AS dan menyebut kabar tersebut sebagai upaya manipulasi pasar.

 

 

Ketegangan yang terus berlangsung ini membuat pelaku pasar global memilih sikap defensif, yang pada akhirnya memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. (frcn)