Laki-laki Lebih Cepat Meninggal, Studi Ungkap Risiko 63 Persen Lebih Tinggi

gaya hidup | 05 April 2026 19:13

Laki-laki Lebih Cepat Meninggal, Studi Ungkap Risiko 63 Persen Lebih Tinggi
Ilustrasi. Seorang laki-laki lebih cepat meninggal daripada perempuan. (dok. cnn)

SURABAYA, PustakaJC.co – Anggapan bahwa laki-laki lebih cepat meninggal dibanding perempuan ternyata bukan sekadar mitos. Sejumlah penelitian ilmiah membuktikan bahwa risiko kematian pada laki-laki memang lebih tinggi.

 

Salah satu studi berjudul Sex and All-Cause Mortality in the US yang menganalisis data hampir 20 tahun menunjukkan laki-laki memiliki risiko kematian 63 persen lebih tinggi dibanding perempuan. Perbedaan paling mencolok terlihat pada kasus penyakit jantung, dengan risiko hampir dua kali lipat. Dilansir dari cnnindonesia.com, Minggu, (5/4/2026).

 

Temuan ini juga konsisten di berbagai kelompok usia. Artinya, fenomena ini bukan kebetulan, melainkan pola yang berulang.

 

Selama ini, faktor gaya hidup sering dianggap sebagai penyebab utama. Laki-laki cenderung lebih sering merokok, jarang memeriksakan kesehatan, serta memiliki pola makan kurang sehat. Namun, penelitian menunjukkan ada faktor lain yang tak kalah penting, yakni biologis.

 

 

Secara genetik, laki-laki memiliki kromosom XY, sementara perempuan XX. Perempuan memiliki “cadangan” kromosom X jika terjadi kerusakan, sedangkan laki-laki tidak. Kondisi ini membuat perempuan relatif lebih terlindungi dari sejumlah penyakit.

 

Data global juga memperkuat temuan tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia mencatat sekitar 41 juta orang meninggal setiap tahun akibat penyakit tidak menular, seperti jantung, stroke, kanker, dan diabetes—atau setara 70 persen dari total kematian dunia. Kasus ini lebih banyak terjadi pada laki-laki.

 

Di Indonesia, pola serupa juga terlihat. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat kematian laki-laki lebih tinggi di semua kelompok usia. Sementara Kementerian Kesehatan mencatat penyakit tidak menular menjadi penyebab utama kematian, dengan prevalensi hipertensi 9,5 persen, PPOK 3,7 persen, dan diabetes 2,1 persen pada laki-laki.

 

 

Meski faktor biologis tidak dapat diubah, risiko kematian tetap bisa ditekan melalui perubahan gaya hidup. Rutin cek kesehatan, konsumsi makanan seimbang, aktif bergerak, dan berhenti merokok menjadi langkah penting.

 

Perbedaan harapan hidup ini bukan soal siapa lebih kuat, melainkan pengingat bahwa menjaga kesehatan—terutama bagi laki-laki—tidak bisa ditunda. Sebab, umur panjang tak hanya soal angka, tetapi juga kualitas hidup. (ivan)