SURABAYA, PustakaJC.co — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berfungsi sebagai kebijakan sosial untuk pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi di tingkat akar rumput. Dampaknya mulai dirasakan pedagang hingga petani di berbagai daerah, Sabtu (11/4/2026).
Salah satu yang merasakan langsung manfaat tersebut adalah Jeffri Sembiring, pedagang jeruk di Pasar Gede Hardjonagoro, Solo, Jawa Tengah. Ia mengaku mengalami lonjakan penjualan sejak program MBG berjalan.
“Pas musim MBG tujuh ton sehari. Sebelum MBG biasanya tujuh ton itu dua hari,” ujarnya saat ditemui di Solo. Demikian dikutip dari jawapos.com, Sabtu (11/4/2026).
Jeffri menyambut baik keberlanjutan program ini. Menurutnya, MBG tidak hanya meningkatkan omzet pedagang, tetapi juga berdampak pada kesejahteraan petani karena harga jual buah menjadi lebih baik.
“Banyak yang kebantu. Pedagang dapat untung, petani juga ikut sejahtera karena harga naik,” katanya.
Hal serupa disampaikan Usman, pedagang buah lokal dan impor di pasar yang sama. Ia kini memasok kebutuhan untuk 10 dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Kita melayani sepuluh dapur,” ujarnya.
Usman menyebut buah lokal seperti jeruk dan salak menjadi komoditas yang paling banyak dipesan. Sementara untuk buah impor, kelengkeng, apel Fuji, dan jeruk kecil menjadi favorit.
“Alhamdulillah, sejak ada MBG jadi lebih ramai,” ucapnya.
Peningkatan permintaan ini turut berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Usman mengaku telah menambah tujuh karyawan baru untuk memenuhi kebutuhan distribusi.
Ia berharap program MBG terus berlanjut karena selain berdampak ekonomi, juga berperan penting dalam pemenuhan gizi anak-anak.
“Dilanjutkan saja, untuk menambah gizi anak-anak,” tambahnya.
Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menilai MBG sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru, khususnya di sektor riil. Executive Director Kadin Indonesia Institute, Mulya Amri, menegaskan bahwa program ini telah mengubah dinamika pasar, terutama pada komoditas pangan.
“Dulu stok ayam dan telur berlebih, sekarang justru kekurangan. Harga telur ikut naik karena permintaan meningkat,” jelasnya.
Menurut Mulya, kondisi ini menjadi peluang besar bagi peternak dan petani untuk meningkatkan produksi. Ia pun mendorong pelaku usaha di daerah untuk beradaptasi dan menangkap peluang baru.
“Ayo pengusaha daerah lakukan pivot. Dari konstruksi bisa beralih ke sektor makanan, kesehatan, dan pertanian,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa anggaran negara yang dialokasikan untuk MBG lebih banyak digunakan untuk operasional makanan dan tenaga relawan, bukan pembangunan dapur.
“Kalau semua dapur dibangun pemerintah, pasti berat. Satu dapur bisa butuh Rp1,5 miliar sampai Rp3 miliar. Di sinilah peran pengusaha,” ungkapnya.
Saat ini, dari target sekitar 30 ribu dapur MBG, sebanyak 20 ribu unit telah beroperasi. Sisanya dinilai sebagai peluang besar, terutama bagi pengusaha di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
Dari sisi sosial, kehadiran MBG juga memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi rumah tangga. Program ini membantu mengurangi beban pengeluaran keluarga sekaligus memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup.
Ketua LabSosio-LPPSP FISIP UI, Hari Nugroho, mengungkapkan bahwa masih banyak siswa yang tidak sempat sarapan sebelum berangkat sekolah.
“Hampir separuh siswa, sekitar 48,5 persen, jarang atau tidak pernah sarapan. Namun 85,8 persen siswa selalu menghabiskan makanan MBG,” ujarnya.
Penelitian dari Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) juga menunjukkan dukungan kuat dari masyarakat terhadap program ini. Sebanyak 81 persen orang tua dari keluarga rentan menyatakan mendukung keberlanjutan MBG.
“Dukungan ini bukan hanya soal penghematan, tetapi juga rasa aman karena anak mendapat makanan bergizi di sekolah,” kata peneliti RISED, M. Fajar Rakhmadi.
Hasil survei Indikator Politik Indonesia turut memperkuat temuan tersebut. Sebanyak 12,2 persen masyarakat mengaku sangat puas, sementara 60,6 persen lainnya menyatakan cukup puas terhadap program MBG.
Dengan berbagai dampak positif tersebut, MBG dinilai tidak hanya menjadi solusi pemenuhan gizi anak, tetapi juga fondasi penting dalam menciptakan sumber daya manusia unggul sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat secara luas. (frcn)