Kasus Kanker Usus Anak Muda Meningkat Kenali Penyebab dan Gejalanya

gaya hidup | 22 Juli 2026 07:54

Kasus Kanker Usus Anak Muda Meningkat Kenali Penyebab dan Gejalanya
Ilustrasi kanker usus pada anak muda. (dok gresiksatu)

GRESIK, PustakaJC.co - Kanker usus kini menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat kanker pada kelompok usia di bawah 50 tahun. Data terbaru menunjukkan sekitar 45 persen kasus baru kanker usus didiagnosis pada pasien berusia di bawah 65 tahun, meningkat dibandingkan 27 persen pada 1995.

 

Meningkatnya kasus pada usia muda membuat sejumlah lembaga kesehatan, termasuk di Amerika Serikat, menurunkan rekomendasi usia skrining kanker usus dari 50 tahun menjadi 45 tahun sejak 2021. Dilansir dari gresiksatu.com, Rabu, (22/7/2026).

 

Sejumlah faktor diduga menjadi penyebab meningkatnya kasus kanker usus pada anak muda. Salah satu yang paling dominan adalah obesitas dan pola makan tidak sehat. Konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi gula, lemak, dan garam, ditambah kebiasaan kurang bergerak, dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker kolorektal.

 

Selain itu, penelitian juga menemukan adanya perbedaan komposisi mikrobioma atau bakteri usus antara pasien usia muda dan lanjut usia. Ketidakseimbangan mikrobioma diduga berkontribusi terhadap perkembangan sel kanker di usus.

 

 

Faktor lingkungan juga menjadi perhatian. Paparan pestisida, pupuk, serta berbagai bahan kimia dalam rantai makanan diduga ikut meningkatkan risiko, meski seseorang telah menerapkan pola makan yang relatif sehat.

 

Di sisi lain, faktor genetik tetap memiliki peran. Sekitar lima persen kasus kanker usus disebabkan oleh mutasi gen bawaan. Risiko juga meningkat pada seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat kanker kolorektal.

 

Beberapa kondisi medis lain seperti riwayat polip usus, penyakit radang usus atau Inflammatory Bowel Disease (IBD), terapi radiasi sebelumnya, hingga sindrom genetik tertentu turut meningkatkan risiko seseorang terkena kanker usus.

 

Sayangnya, gejala kanker usus pada usia muda sering kali diabaikan karena dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain perdarahan dari anus, perubahan pola buang air besar, nyeri atau kram perut berulang, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, mudah lelah, anemia, hingga mual.

 

 

Keterlambatan diagnosis masih menjadi tantangan besar. Sekitar tiga dari empat pasien usia muda baru mengetahui dirinya menderita kanker usus ketika penyakit telah memasuki stadium lanjut.

 

Karena itu, skrining sangat dianjurkan mulai usia 45 tahun bagi masyarakat dengan risiko rata-rata. Sementara bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker kolorektal, pemeriksaan sebaiknya dilakukan lebih awal, yakni sekitar 10 tahun sebelum usia saat anggota keluarga pertama kali didiagnosis.

 

Metode skrining yang tersedia meliputi kolonoskopi setiap 10 tahun, tes feses seperti FIT atau Cologuard setiap satu hingga tiga tahun, serta tes darah DNA tumor yang dapat dilakukan setiap tiga tahun.

 

Para ahli menilai lonjakan kasus kanker usus pada usia muda tidak hanya dipengaruhi faktor keturunan, tetapi juga berkaitan erat dengan perubahan gaya hidup modern, pola makan, kondisi mikrobioma usus, dan paparan lingkungan. Oleh karena itu, menjaga pola hidup sehat, mengenali gejala sejak dini, serta menjalani skrining sesuai anjuran menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko dan meningkatkan peluang kesembuhan. (ivan)