JAKARTA, PustakaJC.co — Radang usus buntu atau apendisitis merupakan kondisi peradangan pada appendix yang dapat menimbulkan nyeri cukup berat. Untuk memastikan kondisi tersebut, dokter tidak hanya mengandalkan keluhan pasien, tetapi juga melakukan sejumlah pemeriksaan.
Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM Prof Ari Fahrial Syam menjelaskan, salah satu gejala khas apendisitis adalah nyeri tekan pada perut bagian kanan bawah. Dilansir dari detik.com, Kamis, (13/8/2026).
Pada kondisi yang lebih berat, rasa nyeri dapat menjadi sangat hebat hingga pasien kesulitan berjalan. Nyeri juga dapat semakin terasa ketika tubuh bergerak.
“Apendisitis adalah suatu peradangan pada usus buntu, appendix yang kita bilang. Jadi itu bisa pasien datang dalam keadaan akut,” ujar Prof Ari, Rabu, (12/8/2026).
Menurutnya, pemeriksaan darah dapat membantu dokter mendukung diagnosis. Salah satu parameter yang diperhatikan adalah kadar leukosit atau sel darah putih.
Nilai leukosit normal umumnya berada pada kisaran 5.000 hingga 10.000. Pada pasien dengan radang usus buntu, kadar leukosit dapat meningkat hingga lebih dari 10.000.
Selain leukosit, dokter juga dapat memeriksa C-reactive protein (CRP) untuk membantu mengetahui adanya infeksi.
Pemeriksaan penunjang lain yang dapat dilakukan adalah USG abdomen. Pemeriksaan tersebut dapat membantu melihat kondisi appendix, termasuk kemungkinan adanya pembengkakan.
Salah satu hal yang dapat dinilai melalui USG adalah diameter appendix. Prof Ari menjelaskan, diameter appendix yang melebihi ukuran normal dapat menjadi salah satu tanda yang mendukung adanya peradangan.
“Kalau disebutkan 8 itu sudah tidak normal, karena nilai normal kurang dari 6 ya, jadi 4 sampai 6 itu masih oke,” jelasnya.
Prof Ari menambahkan, kondisi apendisitis dapat berubah setelah pasien mendapatkan pengobatan. Pada awalnya, pasien dapat mengalami apendisitis akut kemudian gejalanya mereda dalam beberapa waktu.
Namun, hilangnya gejala tidak selalu berarti kondisi pada appendix telah sepenuhnya teratasi. Pada sebagian pasien, kondisi tersebut dapat berlanjut menjadi apendisitis kronis.
Pasien dalam kondisi tersebut tetap berpotensi mengalami kekambuhan. Apendisitis kronis sewaktu-waktu dapat kembali memicu serangan akut.
“Bisa saja pasien masih ada dalam fase appendicitis kronis. Nah, itu kronis, waktu-waktu bisa saja kambuh akut,” kata Prof Ari.
Karena itu, pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan penyebab nyeri perut dan menentukan penanganan yang sesuai. Diagnosis sebaiknya tidak hanya didasarkan pada gejala, tetapi juga mempertimbangkan hasil pemeriksaan dokter dan pemeriksaan penunjang. (ivan)