SURABAYA, PustakaJC.co – Desil kesejahteraan menjadi salah satu dasar pemerintah dalam mengelompokkan kondisi sosial ekonomi keluarga. Sistem ini membagi masyarakat ke dalam 10 kelompok, mulai dari Desil 1 sebagai kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah hingga Desil 10 sebagai kelompok paling sejahtera.
Penentuan desil tidak semata-mata berdasarkan besarnya gaji atau penghasilan bulanan. Sejumlah indikator sosial dan ekonomi lainnya turut diperhitungkan sehingga keluarga dengan penghasilan yang relatif sama belum tentu berada dalam kelompok desil yang sama. Dilansir dari gresiksatu.com, Kamis, (20/8/2026).
Data desil digunakan pemerintah sebagai salah satu dasar dalam menentukan sasaran berbagai program bantuan sosial dan kebijakan lainnya. Karena itu, posisi desil menjadi penting bagi masyarakat, terutama dalam kaitannya dengan akses terhadap program perlindungan sosial.
Faktor yang Menentukan Desil
Ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi posisi sebuah keluarga dalam kelompok desil kesejahteraan.
1. Pekerjaan
Jenis pekerjaan serta stabilitas pendapatan menjadi salah satu indikator yang menggambarkan kondisi ekonomi keluarga. Pekerjaan dengan pendapatan tidak tetap dapat memiliki kondisi berbeda dengan pekerjaan yang memiliki penghasilan lebih stabil.
2. Pendidikan
Tingkat pendidikan kepala keluarga maupun anggota keluarga turut menjadi bagian dari gambaran kondisi sosial ekonomi. Pendidikan dapat berkaitan dengan kesempatan memperoleh pekerjaan dan pendapatan yang lebih baik.
3. Kondisi Rumah
Kondisi tempat tinggal juga menjadi salah satu indikator. Karakteristik rumah dan fasilitas yang tersedia dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan sebuah keluarga.
4. Daya Listrik
Kapasitas listrik yang digunakan di rumah menjadi salah satu indikator dalam melihat kondisi sosial ekonomi keluarga. Penggunaan listrik dengan kapasitas lebih besar dapat berkaitan dengan kepemilikan peralatan dan kemampuan ekonomi rumah tangga.
5. Kepemilikan Aset
Kepemilikan aset seperti kendaraan, tanah, maupun tabungan juga dapat menjadi bagian dari indikator kondisi ekonomi keluarga.
Mengapa Gaji Sama Bisa Berbeda Desil?
Dua keluarga yang memiliki penghasilan bulanan sama belum tentu memiliki kondisi sosial ekonomi yang identik. Salah satu keluarga bisa memiliki rumah sendiri, kendaraan, dan aset lainnya, sementara keluarga lain mungkin masih memiliki keterbatasan dalam kepemilikan aset dan kondisi tempat tinggal.
Perbedaan berbagai indikator tersebut dapat membuat posisi kedua keluarga dalam kelompok desil berbeda meskipun penghasilan bulanannya relatif sama.
Karena itu, masyarakat tidak dapat menentukan posisi desil hanya dengan membandingkan nominal gaji atau penghasilan.
Perbedaan Desil Rendah dan Tinggi
Secara umum, kelompok desil rendah menggambarkan keluarga dengan tingkat kesejahteraan yang lebih rendah, sedangkan desil tinggi menunjukkan kondisi sosial ekonomi yang lebih baik.
Pada kelompok desil rendah, karakteristik pekerjaan dapat didominasi pekerjaan informal atau dengan pendapatan yang tidak tetap. Kondisi rumah dan kepemilikan aset juga relatif lebih terbatas.
Sementara itu, kelompok desil tinggi umumnya memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik, ditandai dengan pekerjaan dan pendapatan yang lebih stabil, kondisi rumah yang lebih baik serta kepemilikan aset yang lebih banyak.
Kaitannya dengan Bantuan Sosial
Data desil digunakan sebagai salah satu dasar dalam penargetan program perlindungan sosial. Kelompok dengan tingkat kesejahteraan lebih rendah menjadi sasaran utama berbagai program bantuan pemerintah sesuai dengan ketentuan dan kriteria masing-masing program.
Karena itu, perubahan kondisi sosial ekonomi keluarga dapat berpengaruh terhadap posisi desil. Data yang digunakan pemerintah juga perlu diperbarui agar kondisi masyarakat yang tercatat semakin sesuai dengan keadaan sebenarnya.
Data Desil Bisa Berubah
Posisi desil bukan sesuatu yang selalu tetap. Perubahan kondisi ekonomi dan sosial keluarga dapat memengaruhi data kesejahteraan.
Misalnya, perubahan pekerjaan, pendapatan, kondisi tempat tinggal, maupun kepemilikan aset dapat membuat kondisi sebuah keluarga berbeda dibandingkan saat data sebelumnya dicatat.
Hal tersebut menjadi tantangan dalam memastikan data sosial ekonomi tetap akurat dan mutakhir.
Masyarakat yang mengalami perubahan kondisi atau menemukan ketidaksesuaian data dapat mengikuti mekanisme pemutakhiran data yang disediakan pemerintah sesuai ketentuan yang berlaku.
Dengan demikian, desil kesejahteraan tidak tepat jika dipahami hanya sebagai pengelompokan berdasarkan gaji. Pekerjaan, pendidikan, kondisi rumah, daya listrik, dan kepemilikan aset turut menjadi bagian dari gambaran kondisi sosial ekonomi keluarga.
Pemahaman tersebut penting agar masyarakat tidak keliru menafsirkan posisi desil, terutama karena data kesejahteraan digunakan dalam berbagai kebijakan pemerintah terkait perlindungan sosial. (ivan)