Parental Burnout Mengintai? Ini Lima Permainan 'Mode Hemat Energi' Tetap Seru Bareng Anak

gaya hidup | 12 September 2026 18:19

Parental Burnout Mengintai? Ini Lima Permainan 'Mode Hemat Energi' Tetap Seru Bareng Anak
Ilustrasi anak bernyanyi. (dok kumparan)

SURABAYA, PustakaJC.co - Rasa lelah mendalam usai menjalani rutinitas pekerjaan atau mengurus rumah tangga sering kali berbenturan dengan energi anak yang sedang tinggi-tingginya untuk mengajak bermain. Kondisi ini tak jarang memicu rasa bersalah pada orang tua. Namun, memaksakan diri atau mengabaikan ajakan anak bukanlah satu-satunya pilihan.

 

Metode permainan less effort atau minim gerakan fisik kini hadir sebagai solusi pragmatis. Strategi ini memungkinkan orang tua untuk tetap beristirahat dan memulihkan stamina tanpa harus mengorbankan kualitas waktu bersama (quality time) sang buah hati.

Secara psikologis, kelelahan berlebih yang dialami orang tua bukanlah bentuk kelalaian atau tanda karakter yang lemah, melainkan sinyal alami tubuh terhadap beban pengasuhan yang berlangsung terus-menerus. Jika tidak dikelola, kelelahan ini dapat mengarah pada parental burnout. Memanfaatkan permainan berbasis roleplay (peran) dan stimulasi sensori menjadi salah satu langkah awal untuk meredakan tekanan tersebut. Dilansir dari kumparan.com, Sabtu, (12/9/2026).

 

Berikut adalah lima ide aktivitas interaktif "mode hemat energi" yang dapat dilakukan sambil berbaring atau duduk santai:

 

1. Salon & Spa Mandiri

Orang tua dapat mengambil peran sebagai pelanggan, sementara anak bertindak sebagai terapis spa. Cukup sediakan alat sederhana seperti sisir, jepit rambut, atau pelembab kulit (hand cream). Saat berbaring di sofa atau tempat tidur, mintalah anak untuk menyisir rambut atau memijat tangan. Aktivitas ini memberikan jeda istirahat sekitar 20 hingga 40 menit bagi orang tua, sekaligus melatih rasa peduli dan kepercayaan diri pada anak.

 

 

2. Klinik Dokter dan Pasien

Manfaatkan posisi berbaring Anda sebagai bagian dari skenario permainan. Pura-puralah menjadi pasien yang sedang "demam" atau "sakit perut", lalu biarkan anak yang berperan sebagai dokter memeriksa menggunakan stetoskop mainan, menulis resep, hingga memberikan obat. Selain memberi ruang rileks bagi orang tua, permainan ini efektif mengasah empati anak sejak dini.

 

3. Tebak Gambar di Punggung

Permainan sensori ini sama sekali tidak memerlukan alat persiapan (zero prep). Orang tua cukup berbaring tengkurap, kemudian minta anak menggambar angka, huruf, atau bentuk sederhana di punggung menggunakan jarinya. Selain menstimulasi indra peraba anak, sentuhan jari tersebut dapat berfungsi sebagai pijatan ringan yang menenangkan sistem saraf kedua belah pihak.

 

4. Restoran dan Pelanggan Lapar

Orang tua dapat duduk bersandar santai berperan sebagai pembeli, sedangkan anak bertugas sebagai koki dan pelayan. Menggunakan mainan masak-masakan atau potongan buah dan biskuit sungguhan, anak diminta menyajikan "menu pesanan". Kunci permainan ini terletak pada pujian dan apresiasi saat menikmati sajian tersebut, yang menjadi bentuk pengakuan (recognition) berharga bagi anak.

 

 

 

5. Panggung Pertunjukan dan Peragaan Busana

Ubah sudut ruangan menjadi panggung mini tempat anak melakukan aksi peragaan busana atau pertunjukan boneka. Orang tua cukup duduk nyaman di baris terdepan (front row) sebagai penonton utama. Energi orang tua hanya difokuskan pada reaksi verbal dan tepuk tangan, sementara anak mendapat ruang penuh untuk mengekspresikan kreativitasnya.

 

Presence Lebih Utama dari Pergerakan Fisik

 

Pada dasarnya, anak-anak tidak selalu menuntut orang tua untuk aktif bergerak secara fisik. Kebutuhan utama mereka dalam pengasuhan adalah kehadiran penuh (presence) dan keterikatan emosional (engagement).

 

Kendati metode permainan sambil beristirahat ini mampu mengurangi beban harian, penting bagi orang tua untuk tetap memprioritaskan pemulihan diri (self-care) secara menyeluruh dan tidak ragu mencari bantuan profesional atau dukungan keluarga jika kelelahan kronis terus berlanjut. (ivan)