SURABAYA, PustakaJC.co - Kelangkaan beras medium program SPHP di sejumlah pasar tradisional Jawa Timur jadi perhatian Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Padahal, stok beras di provinsi ini tercatat aman dan surplus.
Dalam Rapat Konsolidasi Program Pangan di Kantor Setda Jatim, Kamis, (21/8/2025), Khofifah memaparkan hasil pantauannya di Pasar Tanjung, Jember. Ia mengaku heran karena sejak April lalu beras medium SPHP tidak lagi tersedia. Dilansir dari jawapos.com, Sabtu, (23/8/2025).
“Saya ke Pasar Tanjung Jember, dari lantai satu sampai dua tidak ada beras SPHP. Pedagang bilang sejak April tidak ada pasokan,” ujar Khofifah.
Menurutnya, jika beras medium sulit didapat, masyarakat terpaksa membeli beras premium dengan harga lebih tinggi. Hal ini bisa menekan daya beli dan berpengaruh pada angka kemiskinan.
Khofifah menegaskan persoalan bukan pada produksi, melainkan distribusi. Dengan stok beras yang cukup aman, ia meminta bupati dan wali kota aktif mengawal penyaluran SPHP agar benar-benar sampai ke pasar tradisional.
Menanggapi hal itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengakui distribusi sempat tersendat akibat kasus beras oplosan. Bulog bahkan sempat menahan penyaluran untuk mencegah praktik serupa berulang.
“Tapi sekarang masalah itu sudah selesai, tinggal packaging. Saya sudah instruksikan agar Bulog menyalurkan beras medium langsung ke pasar tradisional, bukan lewat operasi pasar,” tegas Zulhas.
Pemerintah pusat dan daerah kini memastikan distribusi beras medium SPHP segera kembali normal, sehingga masyarakat bisa membeli dengan harga yang terjangkau.
Harapan Khofifah dan Zulhas sama: stok beras yang aman di Jawa Timur harus benar-benar sampai ke meja makan rakyat, bukan hanya berhenti di gudang. (ivan)