DPMD Jatim Perkuat Posyandu di Pasuruan untuk Genjot Penurunan Stunting 2025

pemerintahan | 09 Desember 2025 07:28

DPMD Jatim Perkuat Posyandu di Pasuruan untuk Genjot Penurunan Stunting 2025
Wali Kota Pasuruan memberikan bantuan makanan dan minuman berupa susu kepada balita di acara Dinas PMD Provinsi Jatim di kegiatan Penguatan Kelembagaan Posyandu di gedung Gradika Bhakti Praja, Kota Pasuruan. (dok bhirawa)

PASURUAN, PustakaJC.co – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) memperkuat kelembagaan posyandu di Kota Pasuruan sebagai langkah percepatan penurunan stunting tahun 2025. Penguatan ini dilakukan melalui pemberdayaan kader serta pemberian makanan tambahan (PMT) untuk balita dalam kegiatan yang digelar di Gedung Gradika Bhakti Praja, Senin, (8/12/2025).

 

Perwakilan DPMD Jatim, Feri Nur Hayati, menegaskan bahwa penguatan posyandu sangat penting agar layanan dasar di masyarakat bisa berjalan lebih optimal. Dilansir dari bhirawaonline.co.id, Selasa, (9/12/2025).

 

“Ini sebagai upaya penguatan kelembagaan posyandu. Agar posyandu mampu menjalankan perannya dalam enam bidang layanan, termasuk percepatan penurunan stunting,” ujarnya.

 

 

 

Feri menambahkan, posyandu kini memiliki fungsi yang lebih luas, bukan hanya melayani kesehatan balita, tetapi juga menjadi pusat edukasi keluarga dan pendampingan orang tua dalam memantau tumbuh kembang anak.

 

Dalam kegiatan tersebut, DPMD Jatim menyalurkan PMT untuk 250 balita dari empat kecamatan di Kota Pasuruan. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas kader, mengaktifkan kembali posyandu, dan mempercepat penurunan angka stunting di wilayah setempat.

 

Sementara itu, Wali Kota Pasuruan H. Adi Wibowo menyatakan bahwa penurunan stunting membutuhkan sinergi antara pemerintah, posyandu, dan keluarga. Menurutnya, Kota Pasuruan telah menjalankan berbagai intervensi, termasuk penguatan gizi balita melalui PMT.

 

“Pemberian makanan tambahan hari ini bagian dari intervensi spesifik. Tapi yang terpenting adalah perhatian orang tua terhadap tumbuh kembang anak. Jika ada indikasi perkembangan tidak sesuai usia, jangan malu berkonsultasi. Jika dibiarkan, anak bisa mengalami stunting,” jelasnya.

 

 

Mas Adi juga menekankan pentingnya intervensi sensitif, seperti perbaikan sanitasi dan akses air bersih, karena kondisi lingkungan sangat memengaruhi kesehatan balita.

 

“Lingkungan yang sehat adalah fondasi. Sanitasi dan air minum yang buruk bisa berdampak langsung pada tumbuh kembang balita,” katanya.

 

Ia menambahkan bahwa Kota Pasuruan saat ini berada di peringkat 28 nasional dalam percepatan penurunan stunting dan menargetkan angka stunting turun di bawah 5 persen.

 

 

 

Lebih lanjut, ia mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap PMT sebagai solusi akhir.

 

“Tidak cukup hanya mengandalkan stimulus makanan tambahan. Pola makan sehari-hari, pembatasan jajan, serta pemantauan tumbuh kembang di rumah sangat menentukan. Bahkan, tumbuh kembang itu dimulai sejak perencanaan kehamilan. Gizi ibu adalah kunci,” tegasnya. (ivan)