SURABAYA, PustakaJC.co - Ancaman cuaca ekstrem masih membayangi Jawa Timur. Menyikapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur memperpanjang pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga akhir Januari 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengatakan kebijakan tersebut merupakan arahan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, berdasarkan analisis potensi cuaca ekstrem dari BMKG Juanda. Dilansir dari jawapos.com, Rabu, (7/1/2026).
“Berdasarkan data BMKG Juanda, potensi cuaca ekstrem di Jawa Timur masih akan berlangsung pada Januari hingga Februari 2026,” ujar Gatot di Surabaya, Selasa, (6/1/2026).
BMKG memprediksi potensi curah hujan pada Januari 2026 mencapai sekitar 58 persen, sementara pada Februari sekitar 22 persen. Kondisi ini menjadi perhatian serius BPBD Provinsi bersama BPBD di 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Atas arahan Gubernur, BPBD Jatim melanjutkan langkah strategis penanganan melalui Operasi Modifikasi Cuaca yang dilaksanakan mulai 1 hingga 31 Januari 2026. Sejak awal Januari, OMC telah dilakukan sebanyak tujuh sorti, dengan sasaran wilayah selatan Jawa Timur, selatan Pulau Madura, dan wilayah barat Jatim.
“Selama Desember 2025, OMC telah dilakukan sebanyak 50 sorti dengan cakupan berbagai wilayah di Jawa Timur,” jelas Gatot.
Selain itu, sepanjang tahun 2025 tercatat 531 kejadian bencana di Jawa Timur, yang didominasi bencana hidrometeorologi. Rinciannya meliputi 149 kejadian banjir, 147 kejadian angin kencang, serta 21 kejadian tanah longsor.
Sebagai langkah mitigasi tambahan, Pemprov Jatim melalui sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) juga melakukan normalisasi sungai, pembersihan saluran air, serta peningkatan kapasitas dan kesiapsiagaan masyarakat di daerah rawan bencana. (ivan)