Khofifah Ajak Masjid Jadi Pusat Tautan Hati, Pikiran, dan Gerakan Umat

pemerintahan | 17 Januari 2026 20:12

Khofifah Ajak Masjid Jadi Pusat Tautan Hati, Pikiran, dan Gerakan Umat
Khofifah ajak jadikan masjid tautan hati, pikiran, dan gerakan umat. (dok antara)

SURABAYA, PustakaJC.co - Ketua Umum Dewan Pembina Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa, mengajak umat Islam menjadikan masjid sebagai pusat penghubung hati, pikiran, dan gerakan keumatan. Ajakan tersebut disampaikan dalam peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu, (17/1/2026).

 

“Bagaimana gerakan kita minal masjid ilal masjid, bagaimana pikiran kita minal masjid ilal masjid, dan bagaimana hati kita minal masjid ilal masjid,” ujar Khofifah dalam keterangannya yang diterima di Surabaya, Jawa Timur. Dilansir dari antaranews.com, Sabtu, (17/1/2026).

 

Peringatan Isra Mikraj itu dihadiri sekitar 6.000 jamaah Muslimat NU se-wilayah Jabodetabek. Hadir pula Menteri Agama RI Prof. K.H. Nasaruddin Umar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Choiri Fauzi, serta penceramah Ustadz Das’ad Latif.

 

 

Khofifah menegaskan, kecintaan terhadap masjid harus diwujudkan secara nyata melalui upaya memakmurkan masjid dan menghidupkan jamaahnya. Menurutnya, kehadiran jamaah Muslimat NU dalam majelis tersebut merupakan bagian dari penguatan nilai spiritual dan amal ibadah.

 

“Hadirnya kita dalam majelis ini semoga dicatat sebagai amal ibadah yang mengantarkan kita menghadap Allah dalam keadaan husnul khotimah,” tuturnya.

 

Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara hablu minallah dan hablu minannas. Ibadah kepada Allah, kata Khofifah, harus berjalan seiring dengan kesalehan sosial melalui kolaborasi, sinergi, dan harmoni di tengah masyarakat.

 

 

 

Sementara itu, Menteri Agama RI yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. K.H. Nasaruddin Umar, memaknai Isra Mikraj sebagai perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW atas undangan Allah SWT.

 

Ia menjelaskan, Isra merupakan perjalanan yang masih dapat dicerna oleh akal, sedangkan Mikraj adalah perjalanan dari bawah ke atas yang melampaui nalar manusia. “Hakikat Mikraj adalah bagaimana setelah mencapai puncak spiritual, seseorang mampu kembali bersosialisasi dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

 

Menag juga mengapresiasi kolaborasi Muslimat NU dalam penyelenggaraan peringatan Isra Mikraj di Masjid Istiqlal. Ia bahkan membuka peluang bagi Muslimat NU untuk rutin memanfaatkan Masjid Istiqlal sebagai pusat kegiatan keumatan.

 

 

 

Penceramah Ustadz Das’ad Latif menambahkan, inti paling penting dari peristiwa Isra Mikraj adalah perintah salat. 

 

“Kalau ada masalah, jangan langsung dibagikan di media sosial. Kembali ke salat, evaluasi salat kita,” tegasnya.

 

Usai acara, Khofifah bersama Arifah Choiri Fauzi meninjau Terowongan Silaturahmi, jalur bawah tanah yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta, sebagai simbol toleransi dan persaudaraan antarumat beragama. (ivan)