Sinergi Pemprov Jatim Percepat Penanganan Banjir Lamongan

pemerintahan | 20 Februari 2026 13:11

Sinergi Pemprov Jatim Percepat Penanganan Banjir Lamongan
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, didampingi Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, saat meninjau langsung lokasi banjir Lamongan.

BERITA INI DISUPPORT BPBD JATIM

 

SIDOARJO, PustakaJC.co - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur (BPBD Jatim) bersama Pemerintah Kabupaten Lamongan dan sejumlah instansi terkait terus mengintensifkan penanganan banjir yang melanda enam kecamatan di Kabupaten Lamongan sejak 17 Desember 2025. Banjir yang telah berlangsung hampir satu bulan ini menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Timur, mengingat dampaknya terhadap ribuan warga dan aktivitas perekonomian setempat.

 

Berdasarkan data resmi BPBD Jatim, enam kecamatan terdampak meliputi Turi, Karangbinangun, Kalitengah, Glagah, Deket, dan Karanggeneng. Genangan air bervariasi antara 10 hingga 59 sentimeter di sejumlah titik, dengan luas terdampak mencapai ratusan ribu meter persegi.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jatim Gatot Soebroto mengatakan, banjir dipicu oleh puncak musim hujan yang menyebabkan peningkatan debit Sungai Bengawan Solo. Secara geografis, Lamongan berada di wilayah hilir. Ketika wilayah hulu dan daerah sepanjang aliran Bengawan Solo mengalami hujan intensitas tinggi, maka akumulasi air bermuara ke Lamongan.

 

Kondisi semakin kompleks karena luapan Waduk Bengawan Jero. Air dari Bengawan Jero tidak dapat dibuang secara normal ke Bengawan Solo, sehingga arus berbalik dan meluber ke kawasan permukiman. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pintu Dam Kuro telah dibangun agar air dari Bengawan Solo tidak masuk ke Bengawan Jero. Namun, tingginya curah hujan membuat debit Bengawan Jero terus meningkat.

 

"Saat ini, pintu Bengawan Jero tetap ditutup guna mencegah air dari Bengawan Solo masuk kembali. Mekanisme penanganan dilakukan dengan membuang air dari Bengawan Jero ke Bengawan Solo menggunakan pompa berkapasitas besar," ujar Gatot dalam wawancara bersama PustakaJC.co, kemarin.

 

Pembuangan air itu dilakukan dengan mengerahkan 17 Pompa yang beroperasi selama 24 Jam untuk mempercepat penyurutan genangan. rinciannya; 15 unit pompa dikerahkan di Dam Kuro. Kemudian 2 unit di wilayah Melik.

"Serta ada tambahan 2 unit  di Rumah Pompa Kalitengah (masing-masing berkapasitas ±10.000 liter/detik)," sambung Gatot.

 

Pompa-pompa tersebut dioperasikan secara maksimal dan melibatkan sinergi antara BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Lamongan, Balai Pengelola Wilayah Sungai (BPWS), serta dukungan instansi lainnya.

 

Selain pompa, pintu air dibuka secara terkontrol untuk mengalirkan debit ke saluran utama. Dukungan juga datang dari aparat keamanan, termasuk Polres Lamongan yang menurunkan perahu karet guna membantu mobilitas warga terdampak.

Status Tanggap Darurat Diperpanjang

Pemerintah Kabupaten Lamongan memperpanjang status tanggap darurat bencana hingga 26 Januari 2026. Langkah ini dilakukan agar penanganan darurat, distribusi bantuan, dan pengoperasian peralatan dapat terus berjalan optimal.

 

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur Satriyo Nurseno menambahkan, BPBD Jatim memastikan kondisi genangan di kawasan Bengawan Jero relatif stabil, meskipun hujan dengan intensitas tinggi masih terjadi dalam beberapa hari terakhir dan berpotensi menambah debit air.

 

"Selain intervensi teknis, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga menyalurkan bantuan logistik berupa sembako dan kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak. Distribusi dilakukan secara merata sejak awal penetapan status tanggap darurat." beber Satriyo.

Perahu karet, pompa tambahan, serta dukungan personel menjadi bagian dari komitmen bersama untuk mempercepat pemulihan dan memastikan keselamatan warga.

 

Sementara itu. durasi banjir yang cukup panjang menjadi evaluasi penting bagi seluruh pihak. Penanganan tidak hanya berfokus pada respons darurat, tetapi juga mencakup:

Evaluasi penyebab hidrologis dan tata ruang

Efektivitas intervensi teknis

Dampak sosial-ekonomi masyarakat

Penguatan mitigasi jangka panjang

Sebagian wilayah terdampak merupakan daerah cekungan yang secara alami menjadi tampungan air. Kondisi ini menyebabkan air sulit surut secara drastis, terutama ketika hujan masih berlangsung intens. (int)