SURABAYA, PustakaJC.co - Proyek Kereta Rel Listrik (KRL) yang menghubungkan Surabaya dan Sidoarjo resmi memasuki tahap desain teknis. Pemerintah menargetkan pembangunan fisik dimulai pada 2027 setelah seluruh perencanaan detail selesai dan proyek siap ditenderkan.
Tahap ini ditandai dengan pelaksanaan Kickoff Meeting Railway Design Consultant (RDC) untuk proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) Fase I yang digelar pada 13 Februari 2026. Pertemuan tersebut melibatkan Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA), Bank Pembangunan Jerman (KfW), Chodai Co. Ltd sebagai konsultan desain, serta Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Dilansir dari suarasurabaya.net, Minggu, (22/2/2026).
Pelaksana Tugas Direktur Prasarana Perkeretaapian DJKA, Catur Wibisono, menegaskan bahwa tahap desain menjadi fondasi krusial sebelum proyek masuk fase konstruksi. Ia menyebut jalur KRL Surabaya–Sidoarjo memiliki kompleksitas tinggi karena menyangkut utilitas, fasilitas publik, serta aspek keselamatan dan operasional.
“Semua hal prinsipal baik utilitas, fasilitas, heritage seperti di Stasiun Gubeng, maupun keselamatan di perlintasan harus didesain secara mendalam,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Menurutnya, pembangunan jalur baru harus dilakukan tanpa mengganggu operasional kereta api eksisting yang saat ini masih melayani rute Surabaya–Sidoarjo. Karena itu, koordinasi lintas instansi menjadi kunci, termasuk dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur serta pemerintah daerah terkait.
SRRL Fase I-A direncanakan menghubungkan Stasiun Surabaya Gubeng dengan Stasiun Sidoarjo menggunakan sistem KRL modern berbasis listrik. Selain jalur utama, proyek ini juga mencakup pengembangan Depo Sidotopo yang akan difungsikan sebagai depo operasional KRL.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, memastikan proyek tersebut telah memasuki tahap konkret dan bukan lagi sekadar rencana.
“Ini sudah bukan wacana lagi. Semua akan dirancang detail, baik kelistrikannya, melewati jembatan seperti apa, kemudian akan jadi dasar untuk ditenderkan ke konstruksinya,” kata Emil.
Ia juga mengungkapkan bahwa pendanaan sebesar 230 juta euro telah tersedia untuk mendukung pelaksanaan tahap awal proyek SRRL. Dukungan pembiayaan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menghadirkan sistem transportasi massal modern di kawasan metropolitan Surabaya.
Keberadaan KRL Surabaya–Sidoarjo diharapkan menjadi solusi kemacetan yang selama ini menjadi persoalan utama, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari. Selain mempercepat mobilitas masyarakat, proyek ini juga diproyeksikan memperkuat konektivitas antarwilayah dan mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan Surabaya Raya. (ivan)