Menurutnya, di tengah tantangan zaman seperti modernitas, polarisasi sosial, hingga degradasi moral, nilai-nilai Al-Qur’an menawarkan solusi yang bersifat menyeluruh bagi kehidupan manusia.
“Al-Qur’an bukan hanya pedoman spiritual, tetapi juga panduan etis dan sosial yang mampu menyatukan keragaman menuju tujuan mulia, yaitu terwujudnya negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” jelasnya.
Bahtiar menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an tidak boleh hanya dipahami sebagai peristiwa sejarah turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad. Lebih dari itu, momentum ini harus dimaknai sebagai ajakan untuk membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an secara sungguh-sungguh.
“Peringatan Nuzulul Qur’an menjadi panggilan untuk introspeksi. Sejauh mana kita telah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman nyata dalam kehidupan, bukan hanya bacaan ritual,” katanya.