Usai Diakui UNESCO, Reyog Ponorogo Jadi Prioritas, Khofifah Indar Parawansa Siapkan Langkah Besar

pemerintahan | 15 April 2026 06:00

Usai Diakui UNESCO, Reyog Ponorogo Jadi Prioritas, Khofifah Indar Parawansa Siapkan Langkah Besar
Gubernur Khofifah Terima Seniman Tim Reyog Kyai Lodra.

SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah Provinsi Jawa Timur mulai menyiapkan langkah strategis dalam memperkuat ekosistem kesenian Reyog, menyusul pengakuannya sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO.

 

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan, pengakuan internasional tersebut bukan sekadar simbol prestise, melainkan tanggung jawab besar untuk menjaga keberlanjutan budaya.

 

Hal itu disampaikan saat menerima kunjungan Tim Reyog Kyai Lodra di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, dalam rangka persiapan menuju Festival Reyog Nasional Ponorogo 2026 yang dijadwalkan berlangsung Juni mendatang.

 

“Reyog bukan sekadar atraksi. Di dalamnya ada filosofi yang sangat kuat, tentang keberanian, kebenaran, dan harmoni dalam keberagaman,” ujar Khofifah.

 

 

Menurutnya, kekuatan utama Reyog justru terletak pada nilai-nilai yang dikandungnya. Nilai tersebut dinilai mampu membentuk karakter sekaligus menjadi pijakan dalam membangun peradaban bangsa.

 

“Yang lebih penting dari festival adalah filosofinya. Reyog membawa napas keberanian untuk memperjuangkan kebenaran,” imbuhnya.

 

Khofifah juga menyoroti bahwa penetapan Reyog dalam kategori In Need of Urgent Safeguarding oleh UNESCO pada akhir 2024 menjadi peringatan penting agar upaya pelestarian dilakukan secara serius dan berkelanjutan.

 

 

 

Ia menekankan perlunya langkah konkret, mulai dari penguatan pelaku seni, regenerasi, hingga penyelenggaraan pertunjukan secara rutin.

 

“Harus sering ada pentas dan event supaya mereka terus berlatih dan regenerasinya berjalan maksimal,” tegasnya.

 

Selain itu, aspek keberlanjutan lingkungan juga menjadi perhatian. Khofifah memastikan bahwa ke depan pertunjukan Reyog tidak lagi menggunakan material dari satwa dilindungi, sebagai bagian dari komitmen terhadap prinsip animal welfare.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Evy Afianasari menyampaikan, pihaknya terus mendorong kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ekosistem Reyog.

 

 

 

Sejumlah institusi pendidikan seperti Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta dan Universitas Negeri Surabaya dilibatkan, bersama berbagai sanggar seni, untuk mendukung pelatihan hingga pengembangan kreativitas.

 

Tak hanya itu, kerja sama juga dijalin dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam dalam upaya pelestarian burung merak Jawa, yang selama ini menjadi bagian dari atribut Reyog.

 

Perwakilan Tim Reyog Kyai Lodra, Joko Winarko, menyampaikan bahwa keikutsertaan mereka dalam festival bukan sekadar kompetisi, melainkan bentuk komitmen generasi muda dalam menjaga warisan budaya.

 

“Ini kebanggaan sekaligus tanggung jawab kami untuk melestarikan Reyog,” ujar Evy.

 

 

 

Dalam pertemuan tersebut, suasana berlangsung hangat melalui pemotongan tumpeng dan ramah tamah. Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga memberikan dukungan dana pembinaan sebesar Rp25 juta untuk mendukung persiapan tim menuju Festival Reyog Nasional Ponorogo 2026.

 

Langkah ini menegaskan komitmen Jawa Timur dalam menjaga Reyog tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai identitas bangsa yang hidup, berkembang, dan mampu bersaing di panggung global. (ivan)