Masih Bergantung Impor, Khofifah Indar Parawansa Dorong Farmasi Jatim Bangkit

pemerintahan | 29 April 2026 07:57

Masih Bergantung Impor, Khofifah Indar Parawansa Dorong Farmasi Jatim Bangkit
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat meresmikan Pabrik Line 4 Satoria Pharma di Pasuruan, Selasa, (28/4/2026). (dok surabayapagi)

SURABAYA, PustakaJC.co – Ketergantungan terhadap bahan baku impor masih membayangi industri farmasi nasional. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mendorong penguatan industri dalam negeri agar mampu berdiri mandiri dan berdaya saing.

 

Dorongan itu disampaikan Khofifah saat meresmikan Pabrik Line 4 Satoria Pharma di Pasuruan, Selasa, (28/4/2026). Ia menegaskan, meski produksi obat sudah banyak dilakukan di dalam negeri, bahan bakunya masih didominasi impor. Dilansir dari surabayapagi.com, Rabu, (29/4/2026).

 

“Seperti yang disampaikan Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif, dr. William Adi Teja, bahan baku obat kita masih banyak impor. Karena itu, penguatan industri substitusi impor menjadi sangat penting,” ujarnya.

 

 

 

Menurut Khofifah, penguatan sektor hulu menjadi kunci untuk mewujudkan kemandirian industri farmasi nasional. Kehadiran PT Satoria Aneka Industri melalui unit bisnis Satoria Pharma dinilai sebagai langkah konkret dalam upaya tersebut.

 

Ia menyebut, perusahaan tersebut merupakan salah satu produsen infus di Indonesia yang berkontribusi dalam mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri, sekaligus mendorong tumbuhnya industri farmasi di daerah.

 

Khofifah juga mengapresiasi peran industri dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya di Kabupaten Pasuruan. Ia menilai pengembangan sektor farmasi memiliki efek ganda, baik terhadap penyerapan tenaga kerja maupun peningkatan investasi.

 

 

Selain itu, ia menekankan pentingnya dukungan dari sektor layanan kesehatan, termasuk rumah sakit milik pemerintah daerah, untuk menyerap produk dalam negeri.

 

Pemerintah Provinsi Jawa Timur sendiri saat ini mengelola 14 rumah sakit, termasuk RSUD Dr. Soetomo yang menjadi salah satu rumah sakit dengan kapasitas tempat tidur terbesar di Indonesia.

 

“Sinergi antara industri dan fasilitas kesehatan harus diperkuat agar ekosistem farmasi nasional semakin kokoh,” tegasnya.

 

 

Upaya penguatan industri substitusi impor di sektor farmasi diharapkan mampu menjadi langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan terhadap luar negeri, sekaligus memperkuat kemandirian dan daya saing industri nasional. (ivan)