ULN Indonesia Triwulan I 2026 Melambat, BI Sebut Tetap Terkendali

pemerintahan | 19 Mei 2026 07:36

ULN Indonesia Triwulan I 2026 Melambat, BI Sebut Tetap Terkendali
ILUSTRASI. UTL. (dok kominfo)

SURABAYA, PustakaJC.co – Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 433,4 miliar dolar AS atau tumbuh 0,8 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan triwulan IV 2025 yang mencapai 1,9 persen.

 

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan perlambatan terjadi akibat melambatnya pertumbuhan ULN sektor publik maupun sektor swasta. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Selasa, (19/5/2026).

 

“Posisi ULN Indonesia pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 433,4 miliar dolar AS atau secara tahunan tumbuh sebesar 0,8 persen, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan IV 2025 sebesar 1,9 persen,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (18/5/2026).

 

Ia menjelaskan, ULN pemerintah pada triwulan I 2026 mencapai 214,7 miliar dolar AS atau tumbuh 3,8 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 5,5 persen.

 

 

 

Menurut Ramdan, perkembangan ULN pemerintah dipengaruhi aliran modal asing yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional, seiring tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

 

“Sebagai salah satu instrumen pembiayaan APBN, ULN pemerintah dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel dengan pemanfaatan yang terus diarahkan untuk mendukung belanja prioritas pemerintah serta memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi,” katanya.

 

Berdasarkan sektor ekonomi, pemanfaatan ULN pemerintah digunakan untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22,1 persen dari total ULN pemerintah, administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,2 persen, jasa pendidikan 16,2 persen, konstruksi 11,5 persen, serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,5 persen.

 

Selain itu, struktur ULN pemerintah dinilai tetap sehat karena didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99 persen dari total ULN pemerintah.

 

Bank Indonesia menegaskan pengelolaan ULN akan terus diarahkan untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional sekaligus mendukung pembiayaan pembangunan secara berkelanjutan. (ivan)